![]() |
| Polres Jayawijaya masih lanjutkan pencarian korban jembatan gantung wouma yang putus beberapa hari lalu. (Foto: mitramabespolri.com) |
GEBRAK.ID; PAPUA -- Tragedi memilukan terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, setelah jembatan gantung Wouma yang melintasi Sungai Uwe putus dan menyebabkan puluhan warga tenggelam. Insiden tersebut kemudian memicu ketegangan hingga perang antarsuku di wilayah itu.
Berdasarkan data terbaru dari Polres Jayawijaya, sebanyak 24 korban meninggal dunia telah berhasil dievakuasi oleh tim gabungan hingga Minggu (17/5/2026).
Peristiwa nahas itu terjadi di kawasan Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Wamena, pada awal Mei 2026. Jembatan gantung yang menjadi akses utama warga dilaporkan putus saat dilintasi masyarakat, sehingga banyak warga terjatuh ke aliran Sungai Uwe yang arusnya cukup deras.
Kapolres Jayawijaya, Anak Agung Made Satriya Bimantara, mengatakan proses pencarian korban dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang terdiri dari Polres Jayawijaya, Kodim 1702/Jayawijaya, serta Pos Basarnas Wamena.
“Hasil pencarian kami bersama tim gabungan sejak putusnya jembatan gantung Wouma hari pertama hingga saat ini kurang lebih telah menemukan 24 korban,” ujar AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara di Wamena, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, jumlah korban yang jatuh ke sungai sempat simpang siur karena adanya perbedaan laporan dari masyarakat. Aparat menerima informasi jumlah korban mulai dari tujuh orang hingga lebih dari 30 orang.
“Jujur sampai detik ini kami belum mendapatkan data akurat,” kata Kapolres Jayawijaya.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan keterangan aparat dan hasil pencarian di lapangan, jembatan gantung Wouma putus pada malam hari ketika warga melintas. Sejumlah warga yang berada di atas jembatan langsung tercebur ke Sungai Uwe.
Arus sungai yang deras membuat proses evakuasi berlangsung sulit. Tim gabungan kemudian melakukan penyisiran di tiga titik utama, mulai dari lokasi jembatan putus hingga area muara belakang Bandara Wamena dan wilayah Yikuba.
Pencarian korban dilakukan selama beberapa hari demi memastikan jumlah korban sekaligus menenangkan keluarga korban yang terus berdatangan ke lokasi.
Namun situasi kemudian berkembang menjadi konflik antarsuku. Ketegangan muncul akibat emosi keluarga korban dan persoalan adat di tengah masyarakat setempat. Aparat keamanan pun diterjunkan untuk meredam bentrokan agar tidak menimbulkan korban tambahan.
Kapolres Jayawijaya menyebut pihaknya bersama Brimob terus berjaga di sejumlah titik konflik guna mencegah perang suku meluas.
“Kami terus bekerja semaksimal mungkin untuk melerai perang antarsuku ini supaya mencegah terjadinya korban jiwa lagi,” ujar AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara dalam keterangannya di Wamena, Sabtu (16/5/2026).
Hingga kini, aparat gabungan masih melakukan pengamanan dan pencarian lanjutan di sekitar Sungai Uwe. Polisi juga mengimbau masyarakat agar tidak terpancing provokasi dan menyerahkan penanganan kasus kepada aparat berwenang.
(berbagai sumber)
