Makassar International Writers Festival 2026 Jadi Sorotan: Kemenbud Dorong Makassar sebagai Episentrum Sastra Asia Tenggara

Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anissa Rengganis, saat memberikan sambutan dalam pembukaan MIWF 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (14/5/2026). (Foto: Humas Kemenbud RI)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID -- Festival sastra internasional kembali menggeliat di Indonesia Timur. Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem sastra nasional melalui dukungan penuh terhadap Makassar International Writers Festival 2026 atau MIWF 2026 yang digelar di Fort Rotterdam pada 14–17 Mei 2026.

Festival yang telah berlangsung sejak 2010 tersebut dinilai sukses menjadi ruang pertemuan lintas disiplin selama 15 tahun terakhir. Tahun ini, MIWF mengangkat tema “Re-co-ordinate”, sebuah gagasan yang mengajak publik meninjau ulang relasi kemanusiaan, budaya, dan lingkungan di tengah dinamika global yang terus berubah.

Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anissa Rengganis, mengatakan keberlangsungan MIWF merupakan pencapaian penting di tengah menjamurnya festival sastra di berbagai daerah.

Menurutnya, tidak mudah menjaga festival tetap hidup dan relevan selama belasan tahun tanpa dedikasi kuat dari komunitas dan penggeraknya.

“Ini adalah pencapaian yang luar biasa. Butuh komitmen, strategi, energi, dan resiliensi dari teman-teman yang menjadi motor penggerak MIWF. Mewakili Kementerian Kebudayaan, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dedikasi teman-teman semua,” ujar Anissa saat malam pembukaan MIWF 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (14/5/2026).

Anissa menilai MIWF bukan sekadar forum sastra, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai cabang seni dan gerakan sosial. Dalam festival ini, publik dapat menikmati diskusi, workshop, pameran seni rupa, pertunjukan tari, pemutaran film, hingga forum aktivisme warga.

Ia menyebut tema “Re-co-ordinate” sangat relevan dengan kondisi saat ini karena menghadirkan ruang relasional yang mempertemukan jejaring seni budaya dan komunitas sosial dari berbagai negara.

MIWF 2026 menghadirkan sedikitnya 144 program dengan melibatkan ratusan panelis, komunitas, dan mitra kolaborator internasional. Festival ini juga menjadi bagian dari penguatan Manajemen Talenta Nasional (MTN) di sektor sastra, film, seni pertunjukan, dan seni rupa.

Berbagai program pengembangan talenta disiapkan, mulai dari lokakarya, forum diskusi publik, pameran, hingga program penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa asing sebagai upaya internasionalisasi sastra nasional.

Selain itu, MIWF turut memberi perhatian besar terhadap regenerasi penulis muda, khususnya dari kawasan Indonesia Timur, melalui program Emerging Writers MIWF. Festival ini juga menjadi ruang penguatan diplomasi budaya Indonesia–Prancis di bidang sastra dan seni.

Kementerian Kebudayaan bahkan mendukung penyusunan dokumentasi perjalanan MIWF sebagai sumber pengetahuan dan referensi pengembangan ekosistem sastra di masa depan.

“Semoga seluruh program ini bisa memberikan dampak besar bagi penguatan ekosistem seni budaya di Indonesia. Saya juga berharap MIWF dapat terus hadir di tahun-tahun mendatang, tidak hanya sebagai festival sastra, tetapi sebagai ruang tumbuh bersama bagi semua kalangan,” jelas Anissa.

Sementara itu, Direktur MIWF, M. Aan Mansyur, mengungkapkan keberlangsungan festival hingga hari ini tidak lepas dari dukungan masyarakat dan komunitas kreatif yang terus menjaga denyut MIWF dari tahun ke tahun.

“MIWF mampu bertahan hingga saat ini karena digerakkan oleh warga dan komunitas yang menjaga festival ini tetap hidup dari tahun ke tahun,” kata Aan Mansyur.

Turut hadir dalam penyelenggaraan MIWF 2026 antara lain Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara dan Direktur Pengembangan Budaya Digital Insan Abdirrohman.

Melalui MIWF 2026, pemerintah berharap Makassar semakin diperhitungkan sebagai pusat pertemuan sastra dan kebudayaan internasional. Lebih jauh, festival ini diharapkan mampu memperluas jejaring budaya Indonesia di tingkat global sekaligus melahirkan generasi baru penulis dan seniman yang mampu bersaing di panggung dunia.

(Sumber: Kementerian Kebudayaan RI)