Editor: Devona R
Balai Bahasa Provinsi NTT bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM)
melibatkan sekitar 700 pelajar dari tingkat SD hingga SMA dalam berbagai
kegiatan literasi. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; KUPANG – Upaya meningkatkan budaya membaca di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperkuat. Melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng berbagai pihak untuk membangun ekosistem literasi yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan di wilayah tersebut.
Komitmen itu ditegaskan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Generasi Muda dan Gelar Wicara Praktik Baik Literasi di NTT yang digelar dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional pada Selasa (26/5/2026). Kegiatan bertema “Dari Bumi Flobamorata Menyemai Benih Menebar Pijar Literasi” tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi NTT, INOVASI, Bank Indonesia, serta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyatakan bahwa peningkatan kualitas literasi tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penting agar budaya membaca tumbuh secara berkelanjutan.
“Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” kata Hafidz.
Hafidz menjelaskan, berbagai hasil asesmen pendidikan masih menunjukkan perlunya penguatan kemampuan literasi peserta didik di Indonesia. Karena itu, pemerintah terus memperluas akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai dengan usia pembaca.
Sebagai salah satu daerah prioritas penguatan literasi nasional tahun 2026, NTT akan menerima distribusi buku dalam jumlah besar. Badan Bahasa menyalurkan masing-masing 200 eksemplar buku bacaan bermutu ke 1.294 sekolah dasar dan 300 eksemplar buku ke 393 sekolah menengah pertama di seluruh wilayah NTT.
Menurut Hafidz, akses terhadap buku yang menarik dan relevan menjadi fondasi penting dalam membentuk kebiasaan membaca sejak dini.
“Anak-anak harus memiliki akses terhadap buku-buku yang bermutu, menarik, dan sesuai dengan jenjang pendidikan mereka. Dari situlah kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan membaca dapat berkembang,” ujar Hafidz.
Tak hanya menyasar sekolah, dukungan literasi juga diberikan kepada komunitas. Badan Bahasa menyerahkan 5.400 buku bacaan bermutu kepada Bunda Literasi NTT untuk disalurkan ke berbagai daerah. Selain itu, disediakan pula media penyimpanan berisi sekitar 1.400 judul buku digital yang dapat diperbanyak dan dimanfaatkan oleh jaringan Bunda Literasi di tingkat kabupaten dan kota.
Ratusan Pelajar Ikut Penguatan Literasi
Penguatan literasi juga dilakukan secara langsung kepada generasi muda. Balai Bahasa Provinsi NTT bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) melibatkan sekitar 700 pelajar dari tingkat SD hingga SMA dalam berbagai kegiatan literasi.
Masing-masing jenjang mendapatkan pendekatan berbeda. Siswa SD diajak mengulas buku yang telah dibaca, siswa SMP mendapatkan pelatihan membaca cepat, sementara siswa SMA didorong untuk melakukan pembacaan kritis terhadap berbagai cerita dan materi bacaan.
Hafidz menilai tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa minat baca anak-anak sebenarnya cukup besar jika didukung oleh bahan bacaan yang menarik dan lingkungan yang kondusif.
Menurutnya, membaca tidak hanya membantu memahami isi teks, tetapi juga menumbuhkan empati, memperluas imajinasi, serta mengasah kemampuan berpikir kritis.
Kegiatan membaca bersama yang diikuti para siswa berlangsung meriah. Banyak peserta mampu menceritakan kembali isi buku yang mereka baca dengan baik, menunjukkan pemahaman yang utuh terhadap materi bacaan.
Minat Baca Warga NTT Lampaui Rata-Rata Nasional
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur NTT, Henderina Laiskodat, yang membacakan sambutan gubernur, menyampaikan bahwa budaya membaca masyarakat NTT menunjukkan tren positif.
Berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca 2025 yang diterbitkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT mencapai angka 62,05. Capaian tersebut berada di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 54,80.
Menurut Henderina, hasil tersebut menjadi modal penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. “Kita harus menjaga semangat membaca ini dengan menghadirkan bahan bacaan yang berkualitas dan mudah diakses masyarakat,” katanya.
Senada dengan itu, Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menekankan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk budaya membaca sejak usia dini. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, komunitas, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan gerakan literasi di daerah.
“Gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi semua pihak sangat diperlukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Mindriyati.
Dengan distribusi ribuan buku, penguatan kapasitas pelajar, serta dukungan berbagai pemangku kepentingan, NTT diharapkan semakin kokoh menjadi salah satu daerah yang mampu mendorong lahirnya generasi pembelajar yang kritis, kreatif, dan gemar membaca.
(Sumber: Kemendikdasmen)