Penelitian Baru Ungkap Bahaya Tersembunyi Serangan Jantung: Bisa Picu Kerusakan Otak hingga Depresi

Serangan jantung. (Foto ilustrasi: Freepik)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA – Serangan jantung selama ini dikenal sebagai penyakit mematikan yang menyerang organ vital tubuh. Namun penelitian terbaru mengungkap dampaknya ternyata tidak berhenti pada jantung saja. 

Para ilmuwan menemukan fakta bahwa serangan jantung dapat memicu pelepasan zat beracun dalam tubuh yang berpotensi merusak otak hingga meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan penurunan fungsi kognitif.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Advanced Science dan dilaporkan melalui laman Neuroscience News pada Jumat (22/5/2026). Studi itu dipimpin tim peneliti dari University of Ottawa, Kanada.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan adanya peningkatan tajam molekul bernama methylglyoxal (MG) di dalam aliran darah setelah seseorang mengalami serangan jantung. Molekul ini kemudian diketahui dapat menumpuk di otak dan memengaruhi area yang berkaitan dengan emosi serta kemampuan berpikir.

Penulis senior penelitian, Dr. Erik Suuronen, menjelaskan bahwa sebelumnya methylglyoxal lebih banyak dikaitkan dengan penyakit metabolik seperti diabetes. Namun hasil riset terbaru menunjukkan jaringan jantung yang rusak akibat serangan jantung juga memproduksi zat tersebut dalam jumlah tinggi.

“Kami memprediksi methylglyoxal dalam darah akan menargetkan organ lain termasuk otak, dan itu yang kami temukan,” ujar Suuronen.

Hubungan Jantung dan Otak Kian Terbukti

Peneliti menjelaskan, ketika serangan jantung terjadi, tubuh mengalami stres biologis yang sangat berat. Kondisi itu meliputi berkurangnya suplai oksigen, meningkatnya peradangan, hingga perubahan metabolisme tubuh secara drastis.

Akibatnya, produksi methylglyoxal meningkat dan menyebar melalui aliran darah menuju otak. Di sana, zat tersebut diduga memicu kerusakan sel saraf serta gangguan pada fungsi otak.

Temuan ini memperkuat konsep “heart-brain axis”, yakni hubungan erat antara kesehatan jantung dan kesehatan otak. Selama ini, sejumlah penelitian memang menunjukkan pasien penyakit jantung lebih rentan mengalami gangguan psikologis maupun penurunan kemampuan berpikir.

Dalam studi tersebut disebutkan bahwa pasien yang pernah mengalami serangan jantung memiliki risiko depresi dan kecemasan hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Bahkan, pasien yang mengalami depresi atau kecemasan pascaserangan jantung disebut memiliki kemungkinan hingga 2,7 kali lebih besar mengalami serangan jantung kedua atau meninggal dunia.

Para ilmuwan juga mengingatkan bahwa peradangan dan kerusakan sel otak akibat methylglyoxal berpotensi meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan demensia.

Terapi Baru Sedang Dikembangkan

Menindaklanjuti temuan tersebut, tim peneliti kini tengah mengembangkan terapi berbasis peptida yang dirancang untuk menangkap methylglyoxal sebelum mencapai otak.

Terapi itu bekerja layaknya “spons molekuler” yang mengikat zat beracun agar tidak masuk ke sistem saraf pusat dan merusak jaringan otak.

Menurut Suuronen, terapi tersebut akan segera memasuki tahap pengujian lebih lanjut guna melihat efektivitasnya dalam melindungi otak pasien pasca serangan jantung.

Jika hasilnya berhasil, terapi ini dinilai berpotensi menjadi terobosan baru dalam dunia medis, bukan hanya untuk mengurangi risiko gangguan mental setelah serangan jantung, tetapi juga menekan kemungkinan serangan jantung berulang.

Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa pemulihan pasien serangan jantung tidak cukup hanya fokus pada kondisi fisik. Pendampingan kesehatan mental dan pemantauan fungsi kognitif juga perlu menjadi bagian dari proses perawatan jangka panjang.

(Sumber: Neuroscience News)