![]() |
| Pemprov DKI Jakarta berlakukan rekayasa lalu lintas di jalan Daan Mogot hingga Agustus 2027, masyarakat dihimbau mencari jalan alternatif lain. ( Foto: istimewa) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID;JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan rekayasa lalu lintas di sepanjang Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat. Kebijakan ini berlaku hingga 6 Agustus 2027 seiring dengan proyek pembangunan sistem tata air pompa di empat titik strategis .
Menyikapi hal tersebut, DPRD DKI Jakarta mendesak Pemprov untuk segera menambah armada transportasi umum sebagai solusi mitigasi kemacetan yang diprediksi akan memburuk.
Proyek dan Dampak Rekayasa Lalin
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Ujang Harmawan, menyatakan bahwa penutupan satu lajur jalan dilakukan di lokasi Rumah Pompa Depag, KM 13, KM 13A, dan KM 13B . Proyek yang sudah dimulai sejak 7 Januari 2026 ini memakan badan jalan sisi selatan, memaksa arus lalu lintas menjadi mix traffic (campuran) dengan hanya dua lajur.
"Selama pekerjaan berlangsung akan menggunakan area taman dan mengokupansi 1 lajur badan jalan sepanjang area pekerjaan," kata Ujang dalam keterangan resminya, Rabu (13/5/2026) .
Imbas paling signifikan adalah pembongkaran sementara separator atau pembatas jalur Transjakarta sepanjang 1,6 kilometer. Akibatnya, bus Transjakarta yang biasanya melaju di jalur khusus kini harus berbagi ruas dengan kendaraan pribadi dan angkutan berat .
"Diimbau kepada para pengguna jalan agar menghindari ruas jalan tersebut dan dapat menyesuaikan pengaturan lalu lintas yang ditetapkan," imbau Ujang .
Desakan DPRD: Jangan Hanya Imbau Warga
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, William Aditya Sarana, menilai bahwa imbauan untuk menghindari jalan tidaklah cukup. Ia mendesak adanya intervensi serius dari pemerintah.
"Pasti akan terjadi kemacetan. Maka itu harus dimitigasi agar tidak menjadi terlalu parah. Apalagi, kalau berjalan sesuai rencananya, penutupan tersebut bisa dilakukan hingga tahun depan," ujar William saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2026).
William menyoroti bahwa Jalan Daan Mogot sudah terkenal sebagai kantong kemacetan sebelum proyek dimulai. Menurutnya, jika hanya mengandalkan rekayasa lalu lintas tanpa menambah kapasitas transportasi umum, maka kekacauan di Jakarta Barat tidak akan terhindarkan.
"Masyarakat jadi menderita karena itu setiap kali melaluinya dari hari ke hari. Jangan sampai nanti warga hanya diminta untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi kalau tidak ingin macet-macetan, tetapi dari Pemprov DKI sendiri juga tidak ada solusinya," tegas William .
Solusi Transportasi Umum yang Diminta
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang akibat peralihan moda, William meminta PT Transjakarta dan pengelola JakLingko menambah frekuensi serta armada di koridor Daan Mogot.
"Di sepanjang Jalan Daan Mogot itu ada Transjakarta, kemudian ada angkot-angkot JakLingko juga. Untuk sementara waktu pembangunannya berjalan, mungkin layanannya bisa ditambah," usulnya .
Ia menegaskan bahwa penambahan transportasi umum adalah kunci agar masyarakat tidak terjebak di jalan berjam-jam. Selain itu, ia juga mendorok proyek pompa air ini diselesaikan tepat waktu hingga Agustus 2027 dan tidak mengalami keterlambatan. Sampai berita ini diturunkan, Pemprov DKI Jakarta melalui Dishub belum memberikan respons resmi terkait desakan anggaran untuk penambahan armada tersebut.
( berbagai sumber)
