GEBRAK.ID; SURABAYA -- Pendidikan vokasi Indonesia mulai menunjukkan hasil nyata di pasar kerja internasional. Sebanyak 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) resmi dilepas untuk bekerja di berbagai negara dalam acara pelepasan tenaga kerja vokasi di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026).
Momentum ini menjadi gambaran semakin besarnya peluang generasi muda Indonesia menembus industri global, mulai dari Jepang, Taiwan, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa.
Di balik pelepasan ribuan lulusan tersebut, tersimpan banyak cerita perjuangan dan kerja keras para siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja internasional yang kompetitif.
Salah satunya datang dari Arum Tri Wulandari, lulusan LKP NCL Madiun yang akan berangkat bekerja ke Albania, Eropa Timur.
Arum mengaku sejak awal memiliki ketertarikan di bidang kuliner dan perhotelan. Ia kemudian mengikuti kursus perhotelan dengan fokus culinary hingga akhirnya diterima bekerja sebagai commis di Apollon Hotel Albania.
“Saya sangat semangat karena ingin punya pengalaman kerja internasional sekaligus membantu perekonomian keluarga,” ujar Arum.
Selama menjalani pendidikan di NCL Madiun, Arum mendapatkan pelatihan praktik sesuai standar industri internasional. Ia bahkan telah menyelesaikan magang industri di Batam sebelum akhirnya lolos seleksi kerja luar negeri.
Direktur NCL Madiun, Sudarto, mengatakan pihaknya memang mempersiapkan peserta didik untuk mampu bersaing di pasar global.
Menurut Sudarto, kurikulum pembelajaran dirancang bersama praktisi industri sehingga lulusan memiliki standar kompetensi internasional.
“Tahun ini ada 42 lulusan kami bekerja di Eropa Timur, Taiwan, Malaysia, Arab Saudi hingga Amerika,” jelas Sudarto.
Cerita serupa datang dari Muhammad Faiz Setyono, lulusan SMKN 2 Jiwan yang akan bekerja di Jepang.
Faiz sejak lama bercita-cita membangun karier di luar negeri. Sejak kelas 12, ia mulai mempersiapkan diri dengan mempelajari budaya kerja Jepang, bahasa asing, hingga kemampuan adaptasi.
“Saya ingin memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan kemampuan dan memperluas pengalaman kerja global,” kata Faiz.
Faiz menilai dukungan sekolah sangat membantu proses persiapannya. Menurut Faiz, sekolah memastikan siswa mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang aman hingga tahap keberangkatan.
Kepala SMKN 2 Jiwan, Lamijan, menjelaskan sekolah kini melakukan pemetaan minat karier siswa lebih awal agar persiapan kerja dapat dilakukan lebih matang.
Selain pelatihan bahasa asing, pihak sekolah juga menghadirkan industri sebagai guru tamu untuk memperkuat kesiapan siswa menghadapi dunia kerja global.
“Tahun ini ada 24 lulusan kami yang akan berangkat magang atau bekerja di luar negeri, mulai dari Jepang hingga Eropa,” ujar Lamijan.
Lamijan mengungkapkan tren minat siswa bekerja di luar negeri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Jika dahulu hanya beberapa siswa yang tertarik, kini puluhan siswa setiap tahun memilih jalur karier internasional.
Pemerintah sendiri terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui penguatan kompetensi, pembelajaran berbasis industri, hingga pelatihan keterampilan sesuai kebutuhan pasar global.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa SMK dan LKP memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap bersaing secara internasional.
Menurut Tatang, dunia kerja global saat ini tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga soft skills seperti kemampuan beradaptasi, etika kerja, penguasaan bahasa, dan pemahaman budaya kerja negara tujuan.
“Pendidikan vokasi membantu peserta didik mempersiapkan diri agar mampu bekerja optimal dan berkembang di industri global,” kata Tatang.
Keberhasilan ribuan lulusan SMK dan LKP menembus pasar kerja internasional menjadi sinyal positif bahwa pendidikan vokasi Indonesia semakin kompetitif dan mulai mendapat pengakuan di tingkat global.
(Sumber: Humas Kemendikdasmen)
