![]() |
| Rupiah melemah KPR dan cicilan kendaraan rawan mengalami kenaikan. Ekonom sarankan masyarakat hati-hati. (Foto: freepik) |
GEBRAK.ID; JAKARTA--Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali memunculkan kekhawatiran di masyarakat. Banyak yang bertanya-tanya apakah kondisi ini akan membuat cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor ikut naik.
Sejumlah ekonom menilai dampak pelemahan rupiah memang bisa merembet ke sektor perbankan dan mempengaruhi bunga kredit, terutama untuk pinjaman dengan skema bunga mengambang atau floating rate.
Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, mengatakan pelemahan rupiah biasanya diikuti kenaikan suku bunga. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, maka bunga kredit perbankan berpotensi ikut naik.
Menurut David, debitur yang menggunakan bunga variabel menjadi kelompok yang paling berisiko terdampak.
“Kalau cicilan bunganya variabel, maka potensi pembayaran bunga cicilan bisa naik,” kata David Sumual.
Ia menjelaskan, kenaikan bunga biasanya terjadi jika Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Ketika BI Rate naik, bank-bank umumnya ikut menyesuaikan bunga simpanan dan bunga kredit.
David menilai selama inflasi masih terkendali di bawah 4 persen, suku bunga acuan kemungkinan masih bertahan. Namun jika tekanan inflasi meningkat pada semester II 2026, peluang kenaikan BI Rate tetap terbuka.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah tidak otomatis membuat seluruh cicilan masyarakat langsung naik saat ini.
Menurut Josua, risiko terbesar muncul jika tekanan rupiah berlangsung dalam waktu lama sehingga biaya dana perbankan meningkat. Dalam kondisi tersebut, bank bisa menaikkan bunga kredit kepada nasabah.
“Tekanan rupiah yang berkepanjangan dapat mengubah arah ini,” ujar Josua Pardede.
Ia menjelaskan, bank kemungkinan harus menaikkan bunga simpanan untuk menjaga dana pihak ketiga. Akibatnya, biaya operasional bank naik dan akhirnya dibebankan ke bunga kredit.
Meski demikian, Josua menegaskan pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.500 per dolar AS belum tentu langsung membuat semua cicilan melonjak. Dampaknya lebih terasa pada kredit berbunga floating, KPR setelah masa promo berakhir, serta kartu kredit.
Di sisi lain, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai kondisi saat ini belum otomatis membuat bunga kredit naik.
Menurutnya, selama BI belum menaikkan suku bunga acuan, masyarakat belum perlu terlalu khawatir terhadap lonjakan cicilan.
“Belum tentu bunga kredit naik, sejauh ini BI belum menaikkan suku bunga,” kata Teuku Riefky.
Namun Teuku mengingatkan dampak pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu kenaikan harga barang impor dan biaya logistik. Jika harga-harga naik, daya beli masyarakat bisa menurun dan kemampuan membayar cicilan ikut tertekan.
Secara sederhana, pelemahan rupiah memang belum langsung membuat cicilan KPR dan kredit kendaraan naik saat ini. Namun jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, maka bunga kredit perbankan berpotensi ikut meningkat.
Karena itu, masyarakat yang memiliki cicilan berbunga floating disarankan mulai mengatur keuangan lebih hati-hati, menyiapkan dana darurat, dan mengurangi utang konsumtif agar tetap aman jika suku bunga naik di kemudian hari.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Rupiah Melemah, Cicilan KPR dan Kredit Kendaraan Terancam Naik? Ini Penjelasan Ekonom"