Rupiah Melemah ke Rp 17.660, Harga Tempe hingga HP Dipastikan Bakal Naik!


Ilustrasi suasana pasar tradisional ( foto: Gebrak.id/ AI) 


Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA - Pekan ini menjadi kabar buruk bagi dompet kita semua. Nilai tukar rupiah kembali terperosok dalam rekor terlemahnya. Per perdagangan Senin (18/5/2026) pukul 11.08 WIB, mata uang Garuda ambruk 1,15% ke posisi Rp 17.660 per dolar Amerika Serikat (AS) [sumber: Refinitiv].

Pelemahan ini bukan sekadar angka di papan bursa. Ada dampak nyata yang langsung akan kita rasakan di pasar dan warung tetangga. Karena Indonesia masih sangat bergantung pada barang impor, melemahnya rupiah otomatis membuat biaya produksi melonjak. Produsen pun terpaksa menaikkan harga jual.

Lalu komoditas non-migas apa saja yang harganya dipastikan bakal terbang tinggi? mulai dari kebutuhan pokok hingga barang elektronik kesayangan. Berdasarkan data-data akurat dari BPS, Bank Indonesia, serta pernyataan resmi dari para ekonom ternama (BBC, Kompas, Kontan).

Rupiah Lemah, Impor Mahal: Efek Domino ke Semua Sektor

Sebelum melihat daftar barangnya, kita pahami dulu mekanismenya. Ekonomi Indonesia mengimpor hampir 70% bahan baku industrinya . Ketika rupiah melemah, untuk membeli barang yang sama dari luar negeri, pengusaha harus merogoh kocek lebih dalam.

"Pelemahan rupiah ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal," jelas Teuku Riefky, peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), dalam wawancara dengan BBC .

Akibatnya, ada dua skenario yang terjadi: produsen menaikkan harga barang, atau terpaksa mengurangi ukuran/porsi barang (strategi shrinkflation) seperti yang sudah dilakukan oleh para pedagang tahu dan tempe saat ini.

Daftar Komoditas Pangan yang Dipastikan Naik

Sektor makanan adalah yang paling kentara dampaknya karena menyangkut kebutuhan sehari-hari. Meskipun BPS mencatat sempat terjadi deflasi di awal tahun karena panen raya , tekanan dari pelemahan rupiah saat ini akan menggerus efek tersebut.

Berikut komoditas pangan yang akan terdampak:

1. Kedelai (Bahan Baku Tahu & Tempe)

Komoditas ini adalah yang paling sensitif. Indonesia mengimpor lebih dari 90% kebutuhan kedelainya .

· Fakta di Lapangan: Perajin tahu di Semarang sudah merasakan sakitnya. Harga kedelai naik dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 10.500 per kg hanya dalam tiga bulan terakhir .

· Dampak ke Masyarakat: Banyak perajin terpaksa mengurangi ukuran tahunya agar harga jual tidak terlalu tinggi, namun konsumen tetap dirugikan karena mendapatkan porsi lebih sedikit.

· Proyeksi: Biro riset NEXT (BBC) mencatat, harga kedelai impor di pasar domestik bahkan pernah menyentuh Rp 15.100/kg, sementara harga internasional hanya Rp 8.100/kg. Selisih ini akan melebar seiring pelemahan rupiah .

2. Gandum & Tepung Terigu (Mi Instan, Roti, Kue)

Indonesia adalah salah satu importir gandum terbesar dunia. Hampir semua mi instan dan roti yang kita makan berasal dari gandum impor.

· Mekanisme: Biaya produksi mi instan dan roti akan naik. Pabrik makanan ringan diperkirakan akan merevisi harga jual dalam waktu dekat.

· Catatan: Hal ini juga berdampak pada pakan ternak (dari ampas gandum/kedelai), yang pada akhirnya akan menaikkan harga daging ayam dan telur di pasaran .

3. Gula Mentah & Biji Kakao

· Gula: Meskipun pemerintah berupaya swasembada, kebutuhan gula industri (untuk minuman dan makanan kemasan) masih ditopang oleh gula mentah impor. Harga minuman kemasan manis dipastikan akan naik.

· Kakao: Naiknya harga biji kakao impor akan membuat coklat dan aneka camilan menjadi lebih mahal. 

4. Buah-buahan & Daging

· Buah Impor: Apel, jeruk, anggur dari AS, China, atau Australia jelas akan naik karena didatangkan langsung menggunakan dolar.

· Daging Sapi: Untuk memenuhi stok nasional, Indonesia masih mengimpor daging sapi (dari Australia dan Selandia Baru). Harga daging sapi di pasar menjelang akhir tahun berpotensi melonjak signifikan .

Daftar Komoditas Non-Pangan yang Siap Terbang

Jika pangan terasa sehari-hari, barang non-pangan ini biasanya langsung membebani anggaran belanja kelas menengah.

1. Bahan Bakar Minyak (BBM) Nonsubsidi

Ini adalah pemicu utama inflasi karena efeknya berantai ke semua sektor (biaya transportasi dan distribusi).

· Data: Pakar ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof. Hamid Paddu, mengingatkan bahwa Indonesia masih net importir minyak. Saat ini harga minyak dunia mencapai US$ 105 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang hanya US$ 70 .

· Logika: "Impor minyak kena dua kali. Pertama dari harga minyak dunia yang naik, kedua dari kurs rupiah yang melemah," tegas Hamid. Akibatnya, Pertamina terpaksa akan menaikkan harga Pertamax, Dexlite, dan BBM nonsubsidi lainnya dalam waktu dekat . Kenaikan ini otomatis akan diikuti oleh kenaikan tarif angkutan umum dan logistik.

2. Ponsel, Laptop & Komponen Elektronik

Hampir semua smartphone (termasuk yang dirakit di dalam negeri) mengandung komponen semikonduktor impor.

· Fakta: Kelompok "Metal Products, Machinery and Equipment" (yang mencakup elektronik) mencatatkan kenaikan Indeks Harga Perdagangan Besaran (IHPB) signifikan hingga 107.00 pada April 2026 .

· Dampak: Harga HP flagship terbaru dari Samsung, Apple, atau Xiaomi, serta laptop untuk kerja sekolah, akan mengalami penyesuaian harga di distributor.

3. Pupuk (Dampak ke Beras)

Ini adalah efek "siluman". Meskipun beras lokal, harganya bisa naik karena biaya produksi di sawah membengkak.

· Data: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) melaporkan bahwa harga pupuk sudah naik hingga 30% karena bahan baku pupuk impor .

· Dampak: Petani menjual gabah lebih mahal, sehingga Bulog pun membeli beras lebih mahal, dan pada akhirnya harga beras di pasaran ikut tertekan naik.

4. Kosmetik, Skincare & Obat-obatan

Siapa sangka, lipstik dan vitamin juga terancam naik. Indonesia masih mengimpor bahan baku aktif untuk obat-obatan dan kosmetik .

· Dampak: Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy, menyebut sektor kesehatan paling rentan karena bahan baku obat (generik sekalipun) masih pakai dolar. Harga obat batuk atau vitamin tertentu bisa naik 5-10% dalam 2 bulan ke depan .

5. Kendaraan Listrik (EV) & Alat Berat

Mesin, baterai, dan komponen utama kendaraan listrik 100% impor. Dengan rupiah di Rp 17.660, harga mobil listrik seperti Wuling Air, Hyundai Ioniq, atau motor listrik akan semakin sulit dijangkau oleh masyarakat umum. 

Referensi Cepat: Barang & Dampak

•Pangan Tahu, Tempe, Kedelai Impor 90% 

•Pangan Mi Instan, Roti Gandum impor penuh

•Pangan Daging Ayam/Telor Pakan ternak impor (jagung/kedelai) 

•Energi Pertamax, BBM Non Subsidi Harga minyak dunia $105 & kurs lemah 

•Elektronik HP, Laptop, TV Komponen semikonduktor & chip impor 

•Sandang Baju, Sepatu Bermerek Bahan baku tekstil impor (kapas/serat) 

•Kesehatan Obat-obatan, Vitamin Bahan baku kimia obat impor 

•Industri Pupuk, Pakan Ternak Bahan baku pendukung impor naik 30% 

Ekonom memperkirakan, jika rupiah terus berada di level Rp 17.600-Rp 17.700, inflasi diproyeksikan naik 1.5% hingga 2.5% dalam kuartal berikutnya . Untuk menghemat pengeluaran, disarankan untuk membeli kebutuhan pokok dalam jumlah cukup (tidak boros), merawat barang elektronik yang ada, serta beralih sementara ke pangan lokal jika memungkinkan. Kita harus bersiap untuk periode di mana biaya hidup semakin tinggi.

( berbagai sumber