Serangan Udara Israel Kian Kejam, 56 Warga Sipil Lebanon Tewas dalam 24 Jam Terakhir

Kerusakan parah akibat serangan udara Israel terhadap pusat kesehatan milik Otoritas Kesehatan Islam (Hayaa) di daerah Al-Mashouk dekat kota Tyre di selatan Lebanon, Rabu (20/5/2026). (Foto: Anadolu)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID; BEIRUT – Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Serangan udara yang dilancarkan Israel ke sejumlah wilayah di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 56 orang hanya dalam kurun 24 jam terakhir.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan, selain korban meninggal dunia, sedikitnya 103 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan yang terjadi di berbagai daerah, terutama di wilayah selatan dan timur Lebanon.

“Pada 27 Mei, jumlah korban tewas akibat agresi Israel mencapai 3.269 orang, sementara 9.840 lainnya terluka,” demikian pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon yang dirilis Rabu (27/5/2026).

Data tersebut menunjukkan eskalasi konflik yang terus meningkat sejak awal Maret lalu. Sebelumnya, otoritas kesehatan Lebanon mencatat 3.213 korban jiwa dan lebih dari 9.700 warga terluka akibat operasi militer Israel.

Sumber militer Lebanon kepada media Rusia RIA Novosti mengungkapkan bahwa pesawat tempur Israel menggempur sedikitnya 47 kota dan desa di Lebanon dalam sehari terakhir. Wilayah yang menjadi sasaran utama disebut berada di area selatan Lebanon dan Lembah Bekaa.

Kota-kota strategis seperti Nabatieh dan Tyre termasuk di antara wilayah yang mengalami serangan paling intens. Ledakan dan kepulan asap dilaporkan terlihat di sejumlah titik setelah serangan udara berlangsung.

Situasi ini memperlihatkan bahwa ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah Lebanon belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun sebelumnya sempat diumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata.

Pada 16 April 2026 lalu, Lebanon dan Israel diketahui melakukan pembicaraan langsung pertama di tingkat duta besar di Washington, Amerika Serikat (AS). Setelah pertemuan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kedua pihak telah mencapai kesepakatan penghentian sementara konflik.

Namun di lapangan, serangan militer dilaporkan masih terus berlangsung hampir setiap hari. Israel disebut tetap melancarkan operasi ke sejumlah permukiman di Lebanon selatan dan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan.

Di sisi lain, Hizbullah juga terus melakukan perlawanan bersenjata sebagai respons terhadap operasi militer Israel yang dianggap mengancam wilayah Lebanon.

Konflik yang berkepanjangan ini kembali memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi meluasnya perang di kawasan Timur Tengah, terutama jika eskalasi terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan.

(Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA)