Editor: Devona R
GEBRAK.ID; JAKARTA---Institut Teknologi Bandung atau Institut Teknologi Bandung kembali menunjukkan inovasi teknologi karya anak bangsa. Melalui riset kendaraan otonom, tim peneliti ITB berhasil mengembangkan sistem yang mampu mengubah mobil konvensional menjadi kendaraan tanpa awak atau driverless dengan biaya jauh lebih murah dibanding teknologi impor.
Teknologi tersebut dikembangkan lewat riset bertajuk Inovasi Kendaraan Otonom Adaptif, Andal, dan Ekonomis yang dipimpin Augie Widyotriatmo PhD. Sistem ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) lokal yang dipadukan dengan perangkat keras berbiaya rendah namun tetap presisi dan aman digunakan.
Menurut tim peneliti, salah satu tantangan terbesar pengembangan kendaraan tanpa awak selama ini adalah mahalnya teknologi navigasi impor. Sensor lidar dan radar pada mobil otonom komersial diketahui memiliki harga sangat tinggi sehingga sulit diterapkan secara luas di Indonesia.
Sebagai solusi, tim ITB mengembangkan pendekatan berbeda dengan mengombinasikan kamera visual dan low-cost lidar. Pendekatan ini dinilai lebih ekonomis tanpa mengurangi kemampuan kendaraan membaca kondisi jalan dan lingkungan sekitar.
Ketua tim riset, Augie Widyotriatmo, menjelaskan sistem navigasi menjadi komponen utama kendaraan otonom karena menentukan posisi kendaraan secara akurat.
“Dari kita mengetahui posisinya, maka kita bisa menggerakkan autonomous vehicle ini sesuai tujuan dan arahannya,” ujar Augie dikutip dari laman ITB, Senin (25/5/2026).
Keunggulan lain dari teknologi buatan ITB ini adalah kemampuannya beroperasi di berbagai kondisi cuaca. Algoritma persepsi visual yang dikembangkan mampu menyesuaikan perubahan cahaya secara stabil, baik saat cuaca mendung maupun ketika sinar matahari terlalu terang. Hal itu membuat kendaraan tetap dapat membaca jalur dengan konsisten demi menjaga keselamatan pengguna.
Dalam pengembangannya, ITB bekerja sama dengan mitra industri. Tim peneliti bertugas mengembangkan “otak” digital kendaraan, sedangkan pihak industri menyediakan sasis serta sistem elektronik penggerak kendaraan.
Bukan kali pertama ITB mengembangkan teknologi otomotif inovatif. Kampus teknik terbesar di Indonesia tersebut sebelumnya juga aktif mengembangkan kendaraan hemat energi dan mobil listrik karya mahasiswa.
Bahkan pada ajang Trade Expo Indonesia 2025, ITB bersama mitra industri sempat memperkenalkan kendaraan otonom listrik dengan sistem baterai EV terintegrasi. Kendaraan itu diklaim mampu menempuh jarak hingga 100 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Saat ini, teknologi kendaraan tanpa awak ITB disiapkan menuju tahap komersialisasi pada 2026. Penggunaannya diproyeksikan tidak hanya untuk transportasi penumpang, tetapi juga logistik, industri hingga sektor pariwisata.
“Teknologi autonomous vehicle ini bisa digunakan untuk berbagai moda, baik penumpang, barang, industri maupun pariwisata,” kata Augie.
Pengembangan kendaraan otonom lokal dinilai menjadi langkah penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi luar negeri sekaligus membuktikan kemampuan talenta nasional di bidang kecerdasan buatan dan otomotif modern.
(berbagai sumber)
