UMY Buat Terobosan Baru, Dosen Kini Bisa Pilih Jalur Karier: Pengajar, Peneliti, atau Pengabdian

UMY pisahkan tiga jalur dosen, pengajar, peneliti dan pengabdian masyarakat. (Foto: muhammadiyah.or.id) 
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; YOGYAKARTA -- Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY membuat terobosan baru dalam sistem karier dosen. Kampus swasta tersebut kini menerapkan pemisahan jalur karier dosen berdasarkan minat dan talenta masing-masing, yakni sebagai pengajar, peneliti, atau fokus pada pengabdian masyarakat.

Kebijakan baru itu disampaikan langsung oleh Rektor Achmad Nurmandi dalam forum Focus Group Discussion (FGD) bersama pimpinan fakultas, program studi, dan ketua pusat studi di lingkungan UMY, Yogyakarta, Jumat (15/5/2026). 

Melalui kebijakan tersebut, dosen tidak lagi diwajibkan menjalankan seluruh tugas tridarma perguruan tinggi secara bersamaan dengan porsi yang sama. UMY memberikan ruang bagi dosen untuk memilih jalur karier sesuai kekuatan dan kompetensinya.

Achmad Nurmandi mengatakan selama ini banyak dosen menghadapi beban kerja yang dinilai terlalu berat dan tidak realistis. Menurutnya, dosen dituntut mengajar hingga 40 SKS per tahun, namun pada saat bersamaan juga diwajibkan menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah.

“Kalau harus publikasi 3-4 per tahun dan tetap diharuskan mengajar sampai 40 SKS, ya bisa dipastikan akan kesulitan. Ini tidak mungkin,” ujar Nurmandi. 

Tiga Jalur Karier Dosen di UMY

Dalam skema baru tersebut, UMY membagi karier dosen menjadi tiga jalur utama.

1. Jalur Pengajar

Pada jalur ini, dosen akan difokuskan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Dosen pengajar diarahkan memperkuat metode mengajar, pengembangan kurikulum, pendampingan mahasiswa, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi.

Fokus utama jalur ini adalah menghasilkan kualitas lulusan yang unggul melalui proses pembelajaran yang optimal.

2. Jalur Peneliti

Dosen yang memilih jalur peneliti akan lebih banyak diarahkan untuk menghasilkan karya ilmiah, publikasi internasional, kolaborasi riset, dan inovasi akademik. Dalam jalur ini, dosen tidak lagi dibebani kewajiban mengajar penuh seperti sebelumnya.

Nurmandi menilai dosen yang memiliki bakat kuat dalam riset sebaiknya diberi ruang lebih luas untuk berkarya di bidang penelitian.

“Dosen yang memang talentanya riset, sebaiknya memang difokuskan untuk riset saja. Riset itu dunia yang selalu menjanjikan, dan bagi saya pribadi, menyenangkan,” kata Nurmandi. 

Kebijakan ini juga berlaku bagi pejabat struktural kampus seperti dekan hingga rektor yang tidak lagi dibebani target publikasi setara dosen peneliti.

3. Jalur Pengabdian Masyarakat

Selain pengajar dan peneliti, UMY juga membuka jalur dosen yang fokus pada pengabdian masyarakat. Jalur ini diarahkan untuk memperkuat kontribusi kampus dalam pemberdayaan sosial, pendampingan masyarakat, pengembangan desa, hingga program kemanusiaan.

Melalui jalur tersebut, dosen didorong menjadi penghubung antara ilmu akademik dan kebutuhan nyata masyarakat.

Strategi Tingkatkan Reputasi Kampus

UMY menilai kebijakan pemisahan jalur karier dosen menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan dan reputasi kampus di tingkat nasional maupun internasional. 

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi UMY, Supriyatiningsih menjelaskan pihak kampus juga tengah merevitalisasi pusat studi agar lebih produktif menghasilkan publikasi ilmiah dan kerja sama internasional.

Menurutnya, pusat studi akan menjadi salah satu motor utama peningkatan reputasi akademik UMY di level global.

“Pusat Studi adalah salah satu jangkar UMY untuk bisa menempatkan universitas ini pada proses-proses akademik,” ujar Supriyatiningsih. 

Kebijakan pemisahan jalur karier dosen tersebut menjadi salah satu terobosan baru di dunia pendidikan tinggi Indonesia, terutama dalam upaya menyesuaikan beban kerja dosen dengan kompetensi dan produktivitas masing-masing.

(berbagai sumber)