Universitas Pertamina Gandeng Pakar Dunia dan Industri, Bahas Strategi Kota Hijau hingga Transportasi Rendah Emisi

Foto bersama jajaran pimpinan Universitas Pertamina, perwakilan Pertamina Group, serta para pembicara dan moderator dalam kegiatan Studium Generale Sustainability 2026. (Foto: Dok. UPER)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA — Upaya mewujudkan kota rendah karbon dan mempercepat transisi energi menjadi sorotan dalam forum Studium Generale Sustainability yang digelar Universitas Pertamina (UPER), Rabu (21/5/2026). Forum bertajuk “Global Insights for Local Action: Bridging Academia and Industry in Energy Transition” itu mempertemukan akademisi, pemerintah, hingga pelaku industri energi untuk membedah solusi kota hijau di Indonesia.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, mengatakan, tantangan dekarbonisasi tidak cukup hanya lewat pergantian bahan bakar, tetapi juga transformasi pola mobilitas masyarakat.

“Untuk mewujudkan NZE 2060, Pertamina proaktif membangun ekosistem kota cerdas melalui diversifikasi energi hijau dan transportasi terintegrasi,” ujar Agung.

Agung menjelaskan, Pertamina terus memperluas pengembangan biodiesel B50 hingga infrastruktur kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi menuju kedaulatan energi nasional di era pemerintahan Prabowo Subianto.

Dalam forum yang dihadiri sekitar 200 peserta lintas sektor itu, pakar dari USC Sol Price School of Public Policy sekaligus Direktur METRANS Transportation Consortium, Prof. Marlon Boarnet, yang menyoroti pentingnya desain kota berbasis transportasi publik. “Kota hijau berawal dari tata ruang yang memprioritaskan integrasi transportasi publik,” katanya. 

Pakar dari USC Sol Price School of Public Policy sekaligus Direktur METRANS Transportation Consortium, Prof. Marlon Boarnet, yang menyoroti pentingnya desain kota berbasis transportasi publik. (Foto: Dok UPER)

Marlon Boarnet menyebut masyarakat yang tinggal dekat stasiun kereta cenderung lebih sedikit menggunakan kendaraan pribadi.

Sementara itu, Direktur Transformation, Digitalization, dan Sustainability PT Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, memaparkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional yang kini terintegrasi dengan aplikasi digital. Pertamina juga memperluas penggunaan Biosolar B35, Pertamax Green 95 berbasis bioetanol, hingga pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dari minyak jelantah.

Direktur Transformation, Digitalization, dan Sustainability PT Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, memaparkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional yang kini terintegrasi dengan aplikasi digital. (Foto: Dok.UPER)
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., mengatakan kampus memiliki peran penting mencetak talenta dengan green skills serta menghasilkan riset yang relevan untuk kebutuhan industri dan kebijakan publik.

Forum kemudian ditutup Kepala Otorita IKN periode 2022–2024, Prof. Dr. Ir. Bambang Susantono, MCP, MSCE, Ph.D., yang menekankan bahwa pembangunan transportasi rendah emisi hanya dapat berhasil melalui kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah.

Foto bersama peserta kegiatan Studium Generale Sustainability 2026

Data Katadata 2024 mencatat sektor transportasi menyumbang sekitar 150 juta ton emisi CO₂ nasional, dengan 73 persen berasal dari kendaraan bermotor. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi Indonesia dalam mengejar target net zero emission pada 2060.

(Siaran Pers UPER)