Wacana Penghapusan Prodi Keguruan, Unej: Pendidikan tak Semata Penyedia Jasa Kerja

Ilustrasi Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unej. (Foto: Dok. Unej) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID;JEMBER – Wacana penghapusan program studi keguruan yang sempat mengemuka dari lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendapat tanggapan kritis dari Universitas Jember (Unej). Kampus negeri di Jawa Timur ini menegaskan bahwa pendidikan keguruan tidak bisa dilihat hanya sebagai penyedia tenaga kerja formal semata.

Wakil Rektor IV Unej, Prof. Bambang Kuswandi, menyatakan bahwa program studi pendidikan memiliki fungsi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia dan pembangunan sosial jangka panjang.

"Pendidikan tidak semata-mata penyedia jasa kerja," ujar Bambang di Jember, Rabu (20/5/2026).

Menurut Bambang, keputusan menutup program studi tidak bisa dilakukan secara sepihak tanpa mempertimbangkan kebutuhan akademik, keberlangsungan mahasiswa, dan kebutuhan pendidikan nasional.

"Penutupan program studi itu tidak semata-mata ditentukan kementerian, tapi juga berdasarkan usulan dan kebutuhan dari bawah," tegasnya.

Hingga saat ini, Unej masih memiliki banyak program studi keguruan yang tersebar di sejumlah fakultas. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) saja, terdapat program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Ekonomi, hingga Pendidikan Luar Sekolah. Unej juga memiliki Pendidikan IPA dan Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Bambang menegaskan keberadaan program studi pendidikan masih sangat relevan karena kebutuhan tenaga guru di berbagai daerah tetap ada.

Pilih Adaptasi, Bukan Penutupan

Alih-alih mendukung penghapusan, Unej memilih melakukan penyesuaian agar bidang keilmuan tetap relevan dengan perkembangan zaman. Bambang mengatakan kampus mulai membuka ruang kolaborasi lintas disiplin dan penguatan kompetensi tambahan bagi mahasiswa.

Salah satunya melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah lintas jurusan sesuai kebutuhan dunia kerja. Unej juga memperkuat pendidikan kewirausahaan di hampir seluruh program studi.

"Kita ingin alumni Unej tidak hanya tergantung pada pasar kerja, tapi juga bisa menciptakan peluang kerja," tegas Bambang.

Guru Besar Fakultas Farmasi Unej itu menjelaskan bahwa perubahan lanskap pendidikan tinggi memang harus direspons kampus. Namun perguruan tinggi, kata Bambang, tidak boleh kehilangan fungsi dasarnya sebagai institusi pendidikan yang membentuk manusia dan menjaga keberlanjutan ilmu pengetahuan.

"Jangan sampai pendidikan hanya dilihat dari kebutuhan pasar kerja semata," pungkas Bambang.

(berbagai sumber