![]() |
| Orthoebolavirus ( foto: Wikipedia) |
Editor: Devona R
GEBRAK.ID; Kongo – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menetapkan wabah Ebola yang saat ini merebak di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC).
Keputusan tingkat tertinggi ini diumumkan pada 16 Mei 2026, oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, setelah konsultasi dengan negara-negara yang terkena dampak. Penetapan status ini menunjukkan bahwa peningkatan penyebaran lintas negara dan keseriusan wabah memerlukan koordinasi respons global yang lebih intensif .
Kronologi dan Dasar Penetapan Darurat Global
WHO mengambil keputusan dramatis ini setelah menerima laporan tentang wabah "penyakit tidak dikenal" dengan tingkat kematian tinggi pada akhir April 2026 di Provinsi Ituri, DRC. Pada 15 Mei 2026, otoritas kesehatan DRC secara resmi mengonfirmasi bahwa wabah tersebut disebabkan oleh Virus Bundibugyo, salah satu jenis Ebola yang langka namun mematikan .
Salah satu faktor utama kekhawatiran WHO adalah kurangnya alat penanganan untuk varian ini. Berbeda dengan wabah sebelumnya yang disebabkan oleh Strain Zaire, saat ini belum ada vaksin berlisensi atau pengobatan spesifik yang efektif melawan Strain Bundibugyo .
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa masih terdapat "ketidakpastian yang signifikan" mengenai jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi dan penyebaran geografis wabah ini .
Sudah Menyebar Kemana Saja? (Update Terkini)
Meskipun sumber wabah berada di daerah pedesaan, virus ini dengan cepat memasuki wilayah perkotaan dan melintasi batas negara. Berdasarkan data hingga 16-17 Mei 2026, berikut sebarannya:
1. Republik Demokratik Kongo (Episentrum):
· Kasus: 246 kasus suspek dan 80 kematian suspek (8 terkonfirmasi lab).
· Lokasi: Tiga zona kesehatan di Provinsi Ituri (Rwampara, Mongwalu, dan Bunia). Kekhawatiran utama adalah ditemukannya kasus di Bunia, ibu kota provinsi, yang merupakan pusat transportasi ramai, serta satu kasus terkonfirmasi di ibu kota nasional, Kinshasa (sejauh 1.000 km dari pusat wabak) .
· Fatalitas: Empat dari kematian terjadi pada tenaga kesehatan, menandakan adanya penularan di fasilitas medis yang memprihatinkan .
2. Uganda (Penyebaran Lintas Batas):
· Status: Dua kasus terkonfirmasi dilaporkan di Kampala, ibu kota Uganda.
· Korban: Seorang pria Kongo berusia 59 tahun meninggal di rumah sakit Kampala setelah melakukan perjalanan dari DRC. Satu kasus impor lainnya juga dikonfirmasi tanpa hubungan dengan kasus pertama .
3. Risiko Regional Tinggi:
· WHO memperingatkan bahwa negara-negara tetangga seperti Rwanda, Sudan Selatan, dan Burundi berada dalam risiko tinggi penyebaran karena tingginya mobilitas penduduk, perdagangan, dan konflik bersenjata di kawasan perbatasan DRC .
Apa Itu Strain Bundibugyo dan Seberapa Berbahaya?
Virus Bundibugyo (Orthoebolavirus bundibugyoense) adalah spesies Ebola yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2007. Berbeda dengan Strain Zaire yang memiliki tingkat kematian hingga 90%, Bundibugyo sedikit lebih "rendah" dengan Case Fatality Rate (CFR) antara 30% hingga 50%. Namun, faktor kurangnya vaksin membuatnya sama berbahayanya .
Gejala awal meliputi demam mendadak, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem, yang dengan cepat berkembang menjadi muntah, diare, dan pada kasus parah, perdarahan internal maupun eksternal .
Respons Global dan Imbauan WHO
Meskipun status "Darurat Global" telah dideklarasikan, WHO dan para ahli kesehatan dunia menekankan bahwa ini BUKAN pandemi seperti COVID-19. Risiko penyebaran di luar Afrika dinilai sangat rendah .
Imbauan WHO untuk negara-negara di dunia:
1. Jangan Tutup Perbatasan: WHO secara tegas melarang negara-negara memberlakukan larangan perjalanan atau perdagangan internasional dengan negara terdampak, karena dianggap tidak efektif dan hanya berdasarkan ketakutan .
2. Tingkatkan Skrining: Negara dengan penerbangan langsung ke Afrika Tengah, termasuk Indonesia, diminta memperkuat sistem skrining di bandara dan pintu masuk internasional untuk mendeteksi potensi kasus impor .
3. Fokus pada Pelacakan Kontak: Prioritas utama adalah mengisolasi kasus yang terkonfirmasi, melacak kontak erat, serta meningkatkan pencegahan infeksi di rumah sakit .
Peneliti Global Health Security, Dicky Budiman, menilai penetapan status ini harus menjadi peringatan bagi dunia bahwa kerusakan ekosistem meningkatkan risiko kemunculan virus baru berpindah dari hewan ke manusia .
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan diimbau untuk segera mengeluarkan surat edaran kewaspadaan terhadap penyakit virus Ebola, meskipun risiko penularan luas di tanah air dinilai masih rendah .
(berbagai sumber)
