Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA – Berganti pekerjaan dalam waktu singkat atau yang dikenal sebagai job hopping semakin menjadi tren di kalangan pekerja muda, khususnya Generasi Z. Jika dahulu loyalitas diukur dari lamanya seseorang bertahan di sebuah perusahaan, kini banyak anak muda justru menganggap perpindahan kerja sebagai strategi untuk mempercepat perkembangan karier dan meningkatkan kualitas hidup.
Namun, para pakar mengingatkan bahwa keputusan pindah kerja tidak boleh dilakukan hanya karena emosi sesaat atau rasa bosan. Tanpa perencanaan yang matang, kebiasaan sering berganti pekerjaan justru dapat menghambat perkembangan karier di masa depan.
Bukan Soal Tidak Loyal
Laporan Randstad bertajuk Gen Z Workplace Blueprint: Future Focused, Fast Moving yang dirilis pada September 2025 menemukan rata-rata masa kerja Gen Z pada lima tahun pertama kariernya hanya sekitar 1,1 tahun. Sebanyak satu dari tiga Gen Z berencana mengganti pekerjaan dalam satu tahun ke depan.
CEO Randstad Sander van 't Noordende dalam peluncuran laporan tersebut menjelaskan bahwa fenomena ini bukan semata-mata karena kurangnya loyalitas.
"Gen Z bukan sekadar melakukan job hopping, melainkan sedang mencari pertumbuhan karier (growth-hunting)," ujarnya.
Menurut laporan tersebut, alasan terbesar mereka berpindah kerja adalah minimnya peluang pengembangan karier, kurangnya tujuan yang jelas dalam pekerjaan, serta keinginan memperoleh keterampilan baru.
Temuan serupa juga diungkap dalam penelitian psikologi Indonesia berjudul "Redefining Loyalty: A Qualitative Exploration of the Job-Hopping Paradox and Occupational Commitment in Generation Z" yang terbit pada 2026.
Peneliti Stefanie Aurelia dan Kuncoro Dewi Rahmawati menemukan bahwa banyak pekerja muda tetap memiliki komitmen tinggi terhadap profesinya meski sering berpindah perusahaan. Mereka meninggalkan organisasi karena menghadapi kepemimpinan yang toksik, beban kerja berlebihan, serta stagnasi karier, bukan karena tidak bertanggung jawab.
Apa Motivasi Sebenarnya?
Meski kenaikan gaji sering dianggap alasan utama seseorang pindah kerja, berbagai penelitian menunjukkan motivasinya jauh lebih kompleks.
Mayoritas pekerja muda ingin:
• Memperoleh peluang promosi yang lebih cepat
• Meningkatkan keterampilan dan pengalaman
• Mendapatkan keseimbangan hidup dan pekerjaan (work-life balance)
• Bekerja di lingkungan yang sehat
• Mencari pekerjaan yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidup
• Memperoleh fleksibilitas kerja.
Dengan kata lain, mereka tidak hanya mengejar pendapatan, tetapi juga perkembangan diri dan kualitas hidup.
Penyebab Job Hopping Semakin Marak
Ada beberapa faktor yang mendorong meningkatnya tren ini.
Pertama, perkembangan media sosial dan platform pencarian kerja membuat informasi lowongan lebih mudah diakses sehingga peluang berpindah perusahaan semakin terbuka.
Kedua, generasi muda memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap budaya kerja. Mereka cenderung tidak ingin bertahan di lingkungan yang dianggap tidak sehat atau tidak memberikan ruang berkembang.
Ketiga, perkembangan teknologi dan AI membuat banyak pekerja terus mencari perusahaan yang mampu memberikan pelatihan serta kesempatan meningkatkan kompetensi.
Dampak Positif Sering Berganti Pekerjaan
Jika dilakukan secara terencana, job hopping dapat memberikan sejumlah manfaat.
• Kenaikan gaji yang lebih cepat dibanding menunggu promosi internal.
• Pengalaman yang lebih beragam di berbagai industri.
• Jaringan profesional yang semakin luas.
• Kemampuan beradaptasi yang lebih baik.
• Kesempatan menemukan bidang pekerjaan yang benar-benar sesuai minat.
Dampak Negatif yang Perlu Diwaspadai
Di sisi lain, terlalu sering berpindah kerja juga memiliki risiko.
• Rekruter dapat mempertanyakan komitmen kandidat.
• Sulit membangun pengalaman mendalam di satu bidang.
• Kehilangan kesempatan promosi jangka panjang.
• Harus terus beradaptasi dengan budaya kerja baru.
• Berpotensi mengalami tekanan mental akibat perubahan yang terus-menerus.
•Dalam kondisi pasar tenaga kerja yang melambat, terlalu sering berpindah pekerjaan juga dapat memperbesar risiko menganggur apabila kesempatan kerja semakin terbatas.
Jangan Resign Karena Emosi Sesaat
Pakar karier menyarankan pekerja untuk tidak mengambil keputusan resign hanya karena konflik sementara dengan atasan, tekanan pekerjaan, atau rasa bosan.
Sebelum mengajukan surat pengunduran diri, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
• Pastikan sudah memiliki rencana karier yang jelas
• Evaluasi apakah masalah dapat diselesaikan melalui komunikasi
• Hitung kesiapan finansial jika proses mencari pekerjaan baru berlangsung lama
• Pelajari budaya dan prospek perusahaan tujuan
• Pastikan perpindahan tersebut memberikan peningkatan kompetensi, bukan sekadar pelarian dari masalah.
Fenomena job hopping menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja. Loyalitas tidak lagi diukur dari lamanya bekerja di satu perusahaan, melainkan dari komitmen untuk terus berkembang dan memberikan kinerja terbaik.
Meski demikian, berpindah kerja sebaiknya dilakukan secara strategis, bukan karena emosi sesaat. Keputusan yang didasarkan pada tujuan karier, peningkatan kompetensi, dan pertimbangan matang akan memberikan manfaat yang lebih besar dibanding sekadar mengikuti tren.
(berbagai sumber)
