Editor: Devona R
ChatGPT Voice pada Apple CarPlay. (Foto ilustrasi: OpenAI)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) OpenAI tengah menghadapi penyelidikan dari koalisi jaksa penuntut umum sejumlah negara bagian di Amerika Serikat (AS). Penyelidikan tersebut menyoroti berbagai aspek bisnis perusahaan, mulai dari pengelolaan data pengguna hingga dampak penggunaan teknologi AI terhadap masyarakat.
Menurut laporan media teknologi Engadget, Sabtu (13/6/2026) OpenAI menerima surat panggilan resmi pada Jumat (12/6/2026) waktu setempat yang meminta perusahaan menyerahkan sejumlah dokumen dan informasi terkait operasional serta layanan yang mereka jalankan.
Penyelidikan ini menjadi salah satu langkah terbaru regulator AS dalam mengawasi perkembangan industri kecerdasan buatan yang tumbuh sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Data Pengguna hingga Informasi Kesehatan Disorot
Dalam surat tersebut, para jaksa meminta penjelasan mengenai berbagai aspek penting yang berkaitan dengan layanan OpenAI.
Beberapa di antaranya mencakup sistem periklanan perusahaan, strategi untuk menarik dan mempertahankan pengguna, hingga tata kelola data pribadi yang dikumpulkan melalui platform AI.
Tak hanya itu, perhatian juga tertuju pada bagaimana OpenAI menangani informasi sensitif, termasuk data kesehatan pengguna yang berpotensi tersimpan dalam interaksi dengan layanan berbasis AI.
Koalisi jaksa juga ingin mengetahui sejauh mana penggunaan teknologi OpenAI oleh kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia serta langkah-langkah perlindungan yang diterapkan perusahaan.
Selain itu, pengembangan model deep learning, kebijakan internal perusahaan, hingga kecenderungan chatbot AI memberikan jawaban yang terlalu menyetujui atau mengikuti keinginan pengguna turut masuk dalam ruang lingkup pemeriksaan.
OpenAI Siap Bekerja Sama
Menanggapi penyelidikan tersebut, pihak OpenAI menyatakan akan bersikap kooperatif dan terbuka dalam berkomunikasi dengan otoritas terkait.
Juru bicara perusahaan menegaskan bahwa OpenAI memandang serius seluruh kekhawatiran yang disampaikan para jaksa penuntut umum.
"Kami menanggapi serius kekhawatiran yang disampaikan para jaksa agung negara bagian dan berniat berkomunikasi secara konstruktif dengan kantor mereka," kata perwakilan perusahaan.
OpenAI juga menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan teknologi AI yang aman, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Industri AI Makin Ketat Diawasi
Hingga kini belum diketahui secara pasti apa yang menjadi pemicu utama penyelidikan terhadap OpenAI. Namun, perusahaan-perusahaan teknologi yang bergerak di bidang AI memang sedang berada di bawah pengawasan ketat regulator Amerika Serikat.
Kekhawatiran mengenai privasi data, keamanan pengguna, transparansi algoritma, serta dampak AI terhadap kelompok usia rentan menjadi isu yang semakin sering dibahas dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2025, sebanyak 44 jaksa penuntut umum negara bagian AS diketahui mengirim surat kepada sejumlah raksasa teknologi, termasuk Meta. Mereka meminta perusahaan-perusahaan tersebut memperkuat perlindungan terhadap anak-anak dari interaksi chatbot yang dianggap berpotensi menimbulkan risiko atau memberikan respons yang tidak sesuai.
Penyelidikan terhadap OpenAI kini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memastikan perkembangan teknologi AI tetap berada dalam koridor keamanan, privasi, dan perlindungan konsumen di era digital yang terus berkembang.
(Sumber: Engadget)