Editor: Damar Pratama
Perhelatan sepak bola terbesar, Piala Dunia. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Piala Dunia 2026 dipastikan akan menghadirkan sejumlah perubahan penting dalam aturan pertandingan. FIFA bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) mengambil langkah tegas untuk menjaga sportivitas dan mengurangi praktik-praktik yang dinilai memberikan keuntungan tidak adil di lapangan.
Dua perubahan yang menjadi sorotan adalah larangan memanfaatkan cedera kiper sebagai jeda taktis serta perluasan kewenangan Video Assistant Referee (VAR) dalam meninjau pelanggaran yang terjadi sebelum bola dimainkan pada situasi bola mati.
Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, mengatakan aturan baru tersebut telah disosialisasikan kepada para pelatih dari 48 negara peserta Piala Dunia 2026 melalui lokakarya khusus yang digelar FIFA.
Menurut Collina, selama beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan tim memanfaatkan momen ketika kiper mengalami cedera untuk menggelar rapat singkat di pinggir lapangan. Situasi tersebut dianggap mengganggu ritme pertandingan sekaligus memberikan keuntungan taktis yang tidak semestinya.
"Mereka tidak akan diizinkan pergi ke bangku cadangan ketika seorang penjaga gawang tergeletak di lapangan karena cedera," kata Collina, Senin (1/6/2026).
Dalam aturan yang akan diterapkan di Piala Dunia 2026, pemain dari kedua tim harus tetap berada di area permainan atau berkumpul di lingkaran tengah ketika kiper mendapat perawatan. Mereka tidak diperkenankan mendekati pelatih untuk menerima instruksi tambahan.
Fenomena ini sebelumnya menjadi perhatian di sejumlah kompetisi elite. Salah satu kasus yang sempat ramai terjadi ketika pelatih Leeds United Daniel Farke menuding kiper Manchester City, Gianluigi Donnarumma, sengaja mengulur waktu dan mengganggu momentum lawan dengan berpura-pura mengalami cedera.
Meski demikian, FIFA menegaskan tidak akan memberikan kartu kuning atau sanksi disiplin khusus kepada pemain yang mencoba mendekati area teknis. Sebaliknya, wasit akan bertindak lebih proaktif untuk mencegah terjadinya praktik tersebut.
"Penjaga gawang berhak mengalami cedera, tetapi pemain lain tidak berhak meninggalkan lapangan untuk beristirahat dan menerima arahan dari pelatih," ujar Collina.
Selain mengatur soal jeda taktis, FIFA juga memperluas fungsi VAR untuk mengawasi pelanggaran yang terjadi sebelum bola dimainkan dalam situasi tendangan sudut, tendangan bebas, maupun bola mati lainnya.
Aturan ini muncul setelah banyaknya kontroversi di berbagai kompetisi, terutama terkait aksi blok, dorongan, tarik-menarik, hingga gangguan terhadap pemain bertahan dan penjaga gawang sebelum bola dikirim ke area penalti.
Collina menilai praktik tersebut seringkali luput dari perhatian wasit dan menghasilkan gol yang seharusnya tidak sah. "Kami yakin gol seperti itu tidak bisa dibenarkan. Itu benar-benar tidak adil," katanya.
Salah satu contoh yang disorot FIFA adalah gol Timnas Inggris dalam laga persahabatan melawan Uruguay. Saat itu gelandang Inggris Adam Wharton dianggap melakukan gangguan berlebihan terhadap bek Uruguay Jose Maria Gimenez sebelum gol tercipta.
Kasus lain terjadi di Liga Inggris ketika gol West Ham United ke gawang Arsenal dianulir setelah terbukti terjadi pelanggaran terhadap kiper David Raya dalam proses terciptanya gol.
Melalui aturan baru ini, VAR dapat merekomendasikan peninjauan ulang apabila ditemukan pelanggaran jelas sebelum bola dimainkan dan pelanggaran tersebut berpengaruh langsung terhadap terciptanya gol, penalti, atau keputusan disiplin lainnya.
Jika hasil peninjauan menunjukkan adanya pelanggaran, wasit berhak membatalkan gol yang telah tercipta dan mengambil keputusan sesuai ketentuan permainan.
Perubahan regulasi tersebut menunjukkan upaya FIFA untuk menciptakan pertandingan yang lebih adil, kompetitif, dan minim kontroversi pada Piala Dunia 2026. Dengan turnamen yang akan diikuti 48 negara untuk pertama kalinya dalam sejarah, FIFA ingin memastikan bahwa hasil pertandingan benar-benar ditentukan oleh kualitas permainan, bukan oleh celah aturan yang dimanfaatkan untuk kepentingan taktis.
(Sumber: Telegraph/BBC)