![]() |
| Ilustrasi pabrik komponen otomotif. ( Foto: ist) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menanggapi isu hengkangnya dua perusahaan komponen otomotif asal Jepang dari Indonesia. Pemerintah menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mencerminkan iklim investasi nasional secara keseluruhan karena masih banyak investasi baru yang terus masuk ke Tanah Air.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto menyatakan keputusan bisnis perusahaan tertentu untuk berpindah tidak bisa langsung diartikan sebagai perubahan iklim usaha nasional.
"Karena di saat yang sama kita masih melihat banyak sekali investasi baru yang datang ke Indonesia dari negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China," kata Santo di Jakarta, Rabu (24/6) dikutip dari Antara.
Menurut Santo, kalaupun ada perusahaan yang hengkang, keputusan tersebut bisa jadi merupakan hasil perencanaan strategis korporasi atau pergeseran internal industri, bukan karena kondisi iklim investasi di Indonesia yang buruk.
"Walaupun ada beberapa yang keluar, bukan berarti mereka keluar karena spesifik kondisi iklim di Indonesia, tapi bisa jadi juga karena perencanaan strategis internal mereka," ucapnya.
Isu Berawal dari Pernyataan KSPI
Sebelumnya, isu ini mencuat setelah Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh sekaligus Presiden KSPI Said Iqbal mengungkapkan dua perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur berinisial PT J dan PT S berencana memindahkan produksi ke Vietnam.
Menurut Said Iqbal, Vietnam menjadi tujuan karena negara tersebut tengah fokus mengembangkan mobil listrik . Jika relokasi terjadi, ribuan pekerja berpotensi terkena dampak. Dari total 11 ribu tenaga kerja di kedua perusahaan, sekitar 7 ribu orang dikabarkan berpotensi terdampak.
Namun, Said menegaskan bahwa rencana tersebut masih baru sebatas pembicaraan dan proses pemindahan produksi diperkirakan membutuhkan waktu 1-2 tahun ke depan.
"Kami masih punya waktu untuk bernegosiasi. Serikat pekerja akan bernegosiasi dengan perusahaan untuk meyakinkan agar tidak pindah ke Vietnam," ujarnya.
Kemenperin Pastikan Tidak Ada Relokasi
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara tegas membantah isu relokasi dua perusahaan komponen otomotif tersebut. Berdasarkan penelusuran yang diperintahkan langsung Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dipastikan belum ada rencana pemindahan fasilitas produksi PT JAI dan PT SAI dari Indonesia ke Vietnam.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menyatakan kedua perusahaan yang berlokasi di Pasuruan dan Mojokerto tersebut masih beroperasi normal dan rutin menyampaikan laporan kegiatan industri melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) .
"Kedua, tidak ada pengurangan tenaga kerja atau PHK pada dua perusahaan industri tersebut," tegas Febri .
Kemenperin juga menyoroti bahwa pemberitaan masif mengenai relokasi dan PHK ini telah berdampak terhadap rantai pasok industri otomotif dan iklim investasi manufaktur Indonesia. Padahal, PT SAI dan PT JAI telah merealisasikan investasi lebih dari Rp 1,9 triliun di Indonesia dan seluruh produknya ditujukan untuk pasar ekspor .
Komitmen Investasi Baru Terus Mengalir
Dalam kesempatan terpisah, Santo Darmosumarto juga menyoroti sejumlah komitmen investasi baru yang berhasil diteken usai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan dan Jepang .
Ia menekankan bahwa Indonesia dan China memiliki peluang besar untuk bekerja sama dalam pengembangan kendaraan listrik, ekosistem baterai, dan investasi energi berkelanjutan.
"Indonesia dan China dapat menambatkan masa depan bersih bersama melalui kendaraan listrik, ekosistem baterai, dan investasi energi berkelanjutan," ujar Santo dalam Forum Wadah Pemikir dan Media China-Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (24/6).
Meski isu hengkangnya dua perusahaan komponen otomotif sempat menjadi perbincangan, pemerintah optimistis iklim investasi nasional tetap menarik bagi investor asing, terutama dengan adanya komitmen investasi baru di sektor ekonomi hijau dan hilirisasi industri.
( berbagai sumber)
