Editor: A. Rayyan K
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat
serangan Israel telah mencapai 3.593 orang sejak 2 Maret 2026, sementara
10.990 lainnya mengalami luka-luka. (Foto: Anadolu)
GEBRAK.ID; BEIRUT – Konflik yang terus berkecamuk di Lebanon kembali memakan korban jiwa. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 3.593 orang sejak 2 Maret 2026, sementara 10.990 lainnya mengalami luka-luka.
Dalam laporan terbaru yang dirilis Sabtu (6/6/2026), otoritas kesehatan setempat mencatat sebanyak 67 orang meninggal dunia dan 257 orang terluka hanya dalam kurun 24 jam terakhir. Angka tersebut menunjukkan situasi keamanan di wilayah perbatasan Lebanon Selatan masih jauh dari stabil.
Eskalasi ketegangan juga menimpa kalangan militer Lebanon. Kantor berita nasional Lebanon, NNA, melaporkan seorang jenderal Angkatan Bersenjata Lebanon beserta sopirnya tewas setelah kendaraan yang mereka tumpangi menjadi sasaran serangan di wilayah Lebanon Selatan.
Insiden tersebut menambah panjang daftar korban di tengah konflik yang terus berlangsung meskipun sebelumnya telah disepakati gencatan senjata. Namun, serangan di lapangan masih terus terjadi dan memicu kekhawatiran akan memburuknya kondisi kemanusiaan.
Pemerintah Lebanon berulang kali menuding serangan yang dilakukan militer Israel sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Otoritas setempat menilai operasi militer yang masih berlangsung telah menghambat upaya pemulihan dan stabilisasi keamanan di kawasan selatan Lebanon.
Situasi ini juga meningkatkan tekanan terhadap masyarakat sipil yang terdampak konflik berkepanjangan. Ribuan warga dilaporkan harus menghadapi ancaman keamanan, kerusakan infrastruktur, serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar akibat berlanjutnya aksi militer di wilayah tersebut.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan secara menyeluruh. Komunitas internasional terus menyerukan penghentian kekerasan dan perlindungan terhadap warga sipil guna mencegah bertambahnya korban jiwa di kawasan konflik tersebut.
(Sumber: Sputnik/RIA Novosti)