GEBRAK.ID, YOGYAKARTA – Dunia pendidikan dasar di tanah air sedang menghadapi tantangan serius. Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta, mengeluhkan sepinya peminat di tahun ajaran baru 2026/2027.
Data mencatat, dari total kapasitas 3.600 hingga 3.700 kursi untuk kelas 1 di seluruh SD Negeri Kota Yogyakarta, hanya sekitar 2.500 hingga 2.700 siswa yang terdaftar. Artinya, ada sekitar 1.000 kursi yang menganggur dan terancam tidak terisi.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di pusat kota budaya. Wilayah Gunung Kidul dan Kulonprogo juga dilaporkan mengalami kondisi yang sama.
Bahkan hingga ke luar pulau Jawa, seperti di Mataram, Nusa Tenggara Barat, empat SD Negeri terpaksa harus melakukan merger atau penggabungan untuk mempertahankan eksistensi, sementara satu sekolah lainnya harus ditutup karena kekurangan murid.
Kabar serupa datang dari Boyolali, Malang, hingga Magelang yang mencatat puluhan SD Negeri kekurangan murid.
Pergeseran Pola Pikir Orang Tua
Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Malang (UM), Waras Kamdi, mengungkapkan bahwa krisis ini adalah gejala nasional. Saat berkunjung ke Pacitan, Trenggalek, Gorontalo, hingga Manado, keluhan yang sama selalu terdengar dari para pengelola sekolah negeri.
"Orang tua muda saat ini mulai memandang tawaran sekolah swasta jauh lebih baik daripada sekolah negeri," ujar Waras dikutip dari Kompas.com, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Waras, sekolah swasta kini menawarkan nilai lebih yang tidak dimiliki oleh sekolah negeri pada umumnya. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum berbasis kurikulum nasional, sekolah swasta juga memberikan penguatan pendidikan keagamaan yang dianggap menjanjikan pembentukan karakter anak yang lebih baik.
"Image-nya lebih bagus. TK dan SD Negeri agak telat dalam menawarkan sesuatu yang lebih itu. Sementara masyarakat sedang dahaga akan yang lebih," tambah Waras.
Waras menjelaskan bahwa generasi orang tua masa kini memiliki ambisi yang lebih tinggi terhadap pendidikan anaknya. Berbeda dengan generasi terdahulu yang menganggap penting anaknya sekolah, orang tua muda saat ini menekankan pentingnya tumbuh dengan kesempatan pendidikan yang unggul dan komprehensif.
Dorongan ini membuat sejumlah sekolah swasta berbasis agama atau yang memiliki program unggulan kebanjiran peminat. Beberapa di antaranya bahkan sudah penuh hingga beberapa tahun ke depan.
"Masyarakat seolah rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk biaya sekolah swasta. Mereka tidak keberatan anak pulang pagi hingga sore di swasta, padahal dari segi kurikulum sebenarnya tidak ada bedanya dengan negeri," jelas Waras.
Faktor Demografi dan Solusi Merger
Selain faktor preferensi, Waras juga menyoroti penurunan populasi penduduk sebagai penyebab lain. "Saya membacanya sebagai penurunan fertilitas atau pertumbuhan penduduk. Itu mulai minus terus dalam 10 tahun terakhir untuk pertumbuhan anak-anak," kata dia.
Meskipun sekolah negeri memiliki marwah atau jati diri yang bukan untuk tujuan pemasaran, Waras menilai jika bicara soal mencari murid, maka sekolah negeri harus beradaptasi dengan menyediakan program-program yang kompetitif seperti yang ditawarkan sekolah swasta.
Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah penggabungan atau merger sekolah. "Menurut saya gapapa, merger. Akan lebih baik misalnya yang sepi digabung, dikonsep, jadi setahun lebih bagus," sarannya.
Waras menekankan bahwa opsi merger bukan berarti sekolah-sekolah tersebut memiliki kelemahan. Justru, penggabungan bisa menciptakan keunggulan tersendiri. Misalnya, dengan menjamin pembelajaran agama yang lebih baik atau mengkonsentrasikan diri pada pencapaian prestasi akademik tertentu.
"Jika sekolah negeri memang tidak bisa leluasa merancang program, mereka bisa mengecek lulusannya lebih berprestasi di bidang apa. Dari situ, sekolah bisa membangun keunggulan," tegas Waras.
Fenomena Hanya Terjadi di Jenjang Dasar
Uniknya, masalah kekurangan siswa baru ini hanya dialami oleh jenjang TK dan SD. Waras menyebut bahwa minat orangtua terhadap sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) negeri masih sangat tinggi.
"Kalau SMA terutama, orang masih berlomba-lomba daftar. Apalagi ketika masuk jenjang pendidikan tinggi, minat siswa untuk masuk kampus negeri masih tinggi," cetus Waras.
Menurut Waras, SMP dan SMA negeri di berbagai kota dan kabupaten sudah sejak lama memiliki kualitas yang bertahan, meskipun adanya sistem zonasi atau jalur domisili. Keberadaan sekolah dengan fokus sains, olahraga, seni, hingga kurikulum internasional menjadi daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh sekolah dasar negeri secara umum.
Tantangan ke depan bagi SD Negeri adalah bagaimana merancang program-program unggulan yang mampu menarik minat orangtua muda, tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai institusi pendidikan negeri yang terjangkau dan merata.
(Sumber: Kompas.com)
