GEBRAK.ID; JAKARTA – Banyak orang masih menganggap bahwa keberhasilan berhenti merokok hanya bergantung pada kemauan yang kuat. Akibatnya, seseorang yang gagal berhenti merokok sering kali dinilai tidak memiliki tekad yang cukup. Padahal, para ahli kesehatan menegaskan bahwa ketergantungan terhadap rokok merupakan kondisi adiksi kronis yang membutuhkan penanganan medis dan dukungan yang tepat.
Dokter dan pakar kesehatan menjelaskan bahwa nikotin dalam rokok bekerja langsung pada sistem saraf di otak sehingga memicu pelepasan dopamin, zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan nyaman. Paparan nikotin secara terus-menerus menyebabkan perubahan fungsi otak yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari kebiasaan merokok.
Akibatnya, saat seseorang mencoba berhenti merokok, tubuh akan mengalami gejala putus nikotin atau withdrawal, seperti mudah marah, gelisah, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, hingga muncul keinginan yang sangat kuat untuk kembali merokok.
Ketergantungan Rokok adalah Penyakit Adiksi
Mengacu pada penjelasan tenaga medis dan berbagai organisasi kesehatan dunia, ketergantungan tembakau merupakan penyakit kronis yang dapat kambuh seperti halnya hipertensi atau diabetes. Oleh karena itu, proses berhenti merokok tidak cukup hanya mengandalkan niat, tetapi memerlukan strategi yang tepat dan pendampingan profesional.
Pendampingan tersebut dapat berupa konseling perilaku, edukasi mengenai pemicu keinginan merokok, hingga pemberian terapi pengganti nikotin atau obat-obatan tertentu yang direkomendasikan dokter sesuai kondisi pasien.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kombinasi konseling dan terapi medis mampu meningkatkan peluang seseorang berhasil berhenti merokok dibandingkan hanya mengandalkan kemauan sendiri.
Gejala yang Sering Muncul Saat Berhenti Merokok
Pada minggu-minggu pertama, mantan perokok umumnya mengalami beberapa keluhan, antara lain:
Mudah marah dan emosional
Sulit fokus saat bekerja
Gelisah dan cemas
Gangguan tidur
Nafsu makan meningkat
Keinginan kuat untuk kembali merokok
Gejala tersebut merupakan respons tubuh terhadap hilangnya asupan nikotin dan biasanya akan berangsur membaik dalam beberapa minggu apabila proses berhenti merokok dilakukan secara konsisten.
Dukungan Keluarga Sangat Penting
Selain bantuan tenaga kesehatan, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga berperan besar dalam keberhasilan berhenti merokok. Menghindari situasi yang memicu keinginan merokok, mengganti kebiasaan dengan aktivitas fisik, serta menjaga pola hidup sehat dapat membantu mengurangi risiko kambuh.
Para ahli juga menyarankan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada perokok yang gagal berhenti. Sebaliknya, mereka perlu diberikan dukungan dan akses terhadap layanan berhenti merokok agar peluang keberhasilannya semakin besar.
Manfaat Berhenti Merokok
Berhenti merokok memberikan manfaat kesehatan sejak menit-menit pertama. Tekanan darah dan denyut jantung mulai membaik, sementara dalam beberapa bulan fungsi paru meningkat dan risiko penyakit jantung maupun stroke terus menurun.
Dalam jangka panjang, berhenti merokok dapat menurunkan risiko kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung koroner, serta berbagai penyakit kronis lainnya. Organisasi kesehatan dunia juga menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk berhenti merokok karena manfaatnya dapat dirasakan pada semua kelompok usia.
Dengan demikian, keberhasilan berhenti merokok bukan hanya soal kemauan yang kuat, melainkan membutuhkan pemahaman bahwa kecanduan nikotin adalah kondisi medis yang dapat ditangani melalui kombinasi terapi, pendampingan profesional, dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
(berbagai sumber)
