Usai PHK Lebih dari 1.000 Pekerja, GM Tambah 50 Robot di Pabrik

Pabrik transmisi General Motors di Toledo, Ohio, Amerika Serikat. (Foto ilustrasi: GM)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, DETROIT – Keputusan General Motors (GM) menambah puluhan robot kolaboratif atau collaborative robots (cobot) di lini produksi memicu sorotan tajam. Langkah ini dilakukan hanya beberapa pekan setelah produsen otomotif asal Amerika Serikat (AS) tersebut memangkas lebih dari 1.000 pekerja di pabrik kendaraan listrik Factory Zero.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi gambaran nyata bagaimana industri otomotif global semakin mengandalkan otomatisasi dan kecerdasan artifisial (AI) untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan biaya operasional.

Berdasarkan laporan Carscoops, Kamis (18/6/2026), GM telah memasang sekitar 50 unit cobot di fasilitas Factory Zero, Detroit. Robot-robot buatan Fanuc itu bekerja berdampingan dengan manusia untuk memasang berbagai komponen kendaraan di sepanjang jalur perakitan.

Namun, kehadiran teknologi baru itu justru memicu keresahan di kalangan pekerja.

Presiden United Auto Workers (UAW) Local 22, James Cotton, mengatakan para anggota serikat pekerja merasa khawatir karena penambahan robot dilakukan tidak lama setelah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar.

"Selalu menjadi kekhawatiran ketika melihat robot masuk ke sebuah pabrik, terutama setelah mereka mem-PHK lebih dari seribu orang. Mereka mengatakan ini adalah gelombang masa depan, dan jika memang demikian, mereka sedang menghilangkan pekerjaan manusia," ujar Cotton.

Menurut Cotton, serikat pekerja telah mengajukan keberatan resmi kepada GM. Selain berpotensi menggantikan tenaga manusia, mereka juga mempertanyakan aspek keselamatan karena robot bekerja sangat dekat dengan operator di area produksi.

Di sisi lain, GM menegaskan penggunaan robot bukan semata-mata untuk mengurangi tenaga kerja. Juru bicara perusahaan, Kevin Kelly, menjelaskan bahwa penambahan cobot merupakan bagian dari strategi modernisasi pabrik agar lebih efisien, aman, dan mampu bersaing di tengah perubahan industri otomotif.

Perusahaan menyebut robot-robot tersebut dirancang untuk membantu pekerjaan yang berulang dan memiliki risiko ergonomi tinggi, sehingga pekerja dapat lebih fokus pada tugas yang membutuhkan keterampilan manusia.

Factory Zero sebelumnya direvitalisasi sebagai pusat produksi kendaraan listrik GM. Namun, melambatnya permintaan mobil listrik di pasar Amerika Serikat membuat perusahaan mengurangi jumlah shift produksi, menghentikan operasi sementara di beberapa kesempatan, hingga memangkas lebih dari seribu tenaga kerja.

Perubahan besar yang dipicu otomatisasi sebenarnya bukan hal baru. Pengamat industri otomotif Sean Masters menyebut jumlah jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit kendaraan telah berkurang sekitar 50 hingga 70 persen dibandingkan era 1980-an berkat kemajuan teknologi manufaktur.

Meski demikian, Presiden UAW, Shawn Fain, mengingatkan bahwa perkembangan AI, robot humanoid, dan otomatisasi massal akan menjadi tantangan besar bagi masa depan dunia kerja.

"Saat ini kita sedang menghadapi salah satu revolusi teknologi paling mendalam dalam hidup kita dengan hadirnya AI, ancaman robot humanoid, dan otomatisasi massal. Ini adalah ancaman besar terhadap cara hidup, ekonomi, dan sistem politik kita," kata Fain.

Isu otomatisasi di pabrik GM diperkirakan akan menjadi salah satu agenda utama dalam perundingan kontrak antara GM dan UAW yang dijadwalkan berlangsung pada 2028 mendatang.

(Sumber: Carscoops)