10 Kota Paling tidak Layak Huni di Dunia 2026: Ada dari Indonesia?

EIU merilis 10 kota paling tidak layak huni di dunia 2026. Konflik Iran dan Timur Tengah pengaruhi skor stabilitas. Simak daftar lengkap dan posisi kota di Indonesia. (Foto: Teheran, Iran/google) 
Editor: Devona R

GEBRAK.ID,JAKARTA– Lembaga riset Economist Intelligence Unit (EIU) kembali merilis daftar kota dengan kualitas hidup terburuk di dunia melalui Global Liveability Index 2026. Dari 173 kota yang dinilai, sejumlah kota di Timur Tengah, Afrika, dan Asia menempati posisi paling bawah.

EIU menilai kelayakhunian berdasarkan lima kategori utama: stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Skor diberikan dalam rentang 1–100, di mana angka 100 menunjukkan kondisi paling ideal. 

Konflik Iran Pengaruhi Skor Kawasan Teluk

Laporan EIU menyoroti bahwa konflik di Iran telah melemahkan stabilitas di kawasan Teluk. Dampaknya, rata-rata skor kelayakhunian kota-kota di Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) turun satu poin dibanding tahun sebelumnya. 

"Muscat di Oman dan Kuwait City mencatat penurunan peringkat terbesar. Sementara Tehran, Iran, masuk dalam 10 kota terbawah," tulis EIU dalam laporannya Juli 2026. 

Secara global, rata-rata skor kelayakhunian 2026 stagnan di angka 76,1 dari 100, sama seperti tahun lalu. Namun, angka ini menyembunyikan divergensi regional yang tajam Asia menunjukkan peningkatan berkat investasi kesehatan, sementara Timur Tengah justru merosot akibat konflik. 

Daftar 10 Kota dengan Skor Terendah

Berikut daftar 10 kota dengan peringkat paling bawah dari posisi ke-173 (terendah) berdasarkan EIU :

Peringkat Kota Negara

173. Damascus Suriah

172. Tripoli Libya

171. Dhaka Bangladesh

170. Karachi Pakistan

169. Algiers Aljazair

168. Lagos Nigeria

167. Port Moresby Papua Nugini

166. Kyiv Ukraina

165. Harare Zimbabwe

164. Tehran Iran

Damascus kembali bertahan sebagai kota paling tidak layak huni di dunia. Ibukota Suriah ini terus terpuruk akibat konflik berkepanjangan yang merusak stabilitas, layanan kesehatan, dan infrastruktur. 

Tripoli di Libya menempati posisi kedua terbawah dengan skor 41 dari 100. Konflik dan ketidakstabilan institusi selama bertahun-tahun menjadi penyebab utama. 

Laporan EIU juga mencatat bahwa 10 kota terbawah hampir semuanya terkena dampak perang atau kemiskinan, dengan skor stabilitas yang sangat rendah. 

Bagaimana Posisi Kota di Indonesia?

Laporan EIU 2026 menyebutkan kota-kota di Asia Tenggara secara umum mengalami peningkatan, terutama di sektor kesehatan. Namun, untuk kota-kota di Indonesia, posisinya masih berada di luar 10 besar terbawah. Secara regional, kota-kota seperti New Delhi (peringkat 120) dan Mumbai (121) masih berada di atas kota-kota termiskin di Afrika dan Timur Tengah. 

EIU menegaskan bahwa indeks ini digunakan sebagai tolok ukur global untuk ketahanan dan kualitas hidup perkotaan, membantu pembuat kebijakan dan investor memahami dinamika urban di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dan infrastruktur. 

(berbagai sumber)