![]() |
| Presiden Prabowo saksikan Groundbreaking Blok Masela dimulai setelah tertunda hampir 30 tahun.( Foto: tangkapan layar) |
GEBRAK.ID,JAKARTA – Proyek strategis nasional Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi di Blok Masela akhirnya memasuki fase pembangunan setelah tertunda hampir tiga dekade. Groundbreaking proyek bernilai sekitar US$21 miliar atau setara lebih dari Rp340 triliun (kurs Rp16.200 per dolar AS) digelar pada Kamis (16/7/2026) dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dimulainya konstruksi proyek tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk DPR RI. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menyebut pembangunan Blok Masela menjadi tonggak penting bagi sektor energi nasional sekaligus bukti bahwa proyek strategis yang lama tertunda akhirnya dapat direalisasikan.
"Groundbreaking Blok Masela merupakan bukti bahwa proyek strategis yang sempat tertunda hampir tiga dekade pada akhirnya dapat bergerak ketika ada kepemimpinan yang kuat," ujar Bambang dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7/2026).
Menurut Bambang, pembangunan Blok Masela tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi sinyal positif bagi investor global bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menjanjikan di sektor migas.
Ia menilai proyek tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas industri pendukung, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku dan kawasan Indonesia Timur.
Apa Itu Blok Masela?
Blok Masela merupakan wilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) yang berada di Laut Arafura, sekitar 150 kilometer di lepas pantai Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.
Wilayah ini dikenal sebagai salah satu ladang gas alam terbesar yang dimiliki Indonesia. Cadangan gas utamanya berada di Lapangan Abadi (Abadi Gas Field), yang ditemukan pada akhir 1990-an melalui kegiatan eksplorasi oleh perusahaan migas asal Jepang, Inpex Corporation.
Saat ini pengembangan proyek dilakukan oleh konsorsium yang dipimpin Inpex Masela Ltd bersama PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas Masela Sdn. Bhd.
Untuk Apa Proyek LNG Abadi Dibangun?
Gas alam yang diproduksi dari Lapangan Abadi akan diolah menjadi Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair.
Proses pencairan dilakukan dengan mendinginkan gas hingga sekitar minus 162 derajat Celsius sehingga volumenya menyusut sekitar 600 kali. Dengan bentuk cair, LNG menjadi lebih mudah disimpan dan dikirim menggunakan kapal ke berbagai negara maupun untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
Selain menghasilkan LNG untuk ekspor, proyek ini juga akan memasok gas pipa bagi industri dalam negeri serta menghasilkan kondensat yang dapat diolah menjadi berbagai produk energi.
Pemerintah menilai proyek tersebut menjadi bagian penting dalam transisi energi karena gas alam menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan batu bara maupun minyak.
Potensi Produksi Sangat Besar
Berdasarkan rencana pengembangan yang telah disetujui pemerintah, Blok Masela diproyeksikan mampu memproduksi:
9,5 juta ton LNG per tahun
150 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) gas pipa
35.000 barel kondensat per hari
Kapasitas tersebut menjadikan Blok Masela sebagai salah satu proyek LNG terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Mengapa Blok Masela Baru Dibangun Setelah Hampir 30 Tahun?
Perjalanan proyek ini tergolong panjang.
Lapangan Abadi ditemukan pada 1998. Namun, pengembangannya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan konsep pembangunan, negosiasi investasi, pembahasan skema pengolahan gas, hingga proses perizinan yang berlangsung bertahun-tahun.
Pada awalnya, proyek dirancang menggunakan fasilitas terapung (Floating LNG/FLNG). Namun pada 2016 pemerintah memutuskan fasilitas pengolahan gas dibangun di darat (onshore LNG) agar memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Setelah keputusan tersebut, pengembang harus menyusun kembali rencana pengembangan (Plan of Development/POD), melakukan studi teknis baru, memperoleh berbagai izin, serta mencari mitra strategis dan pendanaan. Proses inilah yang membuat realisasi proyek membutuhkan waktu sangat panjang hingga akhirnya memasuki tahap konstruksi pada 2026.
Diharapkan Menggerakkan Ekonomi Indonesia Timur
Selain menjadi proyek energi, Blok Masela juga diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
Selama masa konstruksi hingga operasi, proyek ini diperkirakan menyerap puluhan ribu tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung, mendorong pertumbuhan usaha lokal, pembangunan pelabuhan, jalan, kawasan industri pendukung, hingga peningkatan pendapatan daerah.
Pemerintah juga berharap keberadaan proyek tersebut dapat memperkuat pasokan energi nasional sekaligus meningkatkan penerimaan negara melalui pajak, bagi hasil migas, serta devisa dari ekspor LNG.
Dengan dimulainya pembangunan fisik setelah penantian hampir tiga dekade, Blok Masela kini memasuki babak baru sebagai salah satu proyek energi terbesar yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.
( berbagai sumber)
