Apple Lobi Pemerintah AS demi Beli Chip China, Krisis Memori Global Ancam Produksi iPhone

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Apple. (Foto: Pixabay)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, JAKARTA – Apple dikabarkan tengah melakukan langkah yang tidak biasa dengan melobi pemerintah Amerika Serikat (AS) agar diizinkan membeli chip memori dari perusahaan asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT). Upaya tersebut dilakukan di tengah meningkatnya krisis pasokan chip memori dunia yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.

Laporan Gizmochina menyebutkan, langkah Apple dipicu oleh tekanan pasokan komponen sekaligus melonjaknya harga memori global. Situasi semakin rumit setelah Samsung dilaporkan menaikkan harga RAM hingga 100 persen pada awal 2026. Menariknya, Apple memilih menerima kenaikan harga tersebut tanpa melakukan negosiasi.

Analis TF International Securities, Ming-Chi Kuo, mengatakan industri teknologi saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibanding sekadar kenaikan harga komponen.

"Masalah utama industri kini bukan hanya harga yang terus naik, tetapi juga ancaman kekurangan pasokan memori yang dapat memengaruhi produksi berbagai perangkat elektronik," ungkap Kuo dalam analisisnya, Rabu (1/7/2026).

Menurut Kuo, Apple berharap pemerintah AS tidak memasukkan CXMT ke dalam daftar perusahaan yang dibatasi sehingga raksasa teknologi tersebut dapat menjadikan produsen asal China itu sebagai salah satu pemasok chip Dynamic Random Access Memory (DRAM).

Saat ini, CXMT merupakan produsen chip DRAM terbesar di China. Namun, perusahaan tersebut berada dalam pengawasan pemerintah AS karena diduga memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer China. Status itu membuat perusahaan-perusahaan teknologi asal Amerika menghadapi pembatasan dalam menjalin kerja sama bisnis.

Di sisi lain, Apple dinilai membutuhkan sumber pasokan baru untuk menjaga stabilitas produksi perangkatnya. Kebutuhan memori diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya fitur-fitur berbasis kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang membutuhkan kapasitas RAM lebih besar dibanding generasi sebelumnya.

Ming-Chi Kuo memperkirakan sekitar 15 hingga 20 persen kapasitas produksi chip memori yang semula dialokasikan untuk perangkat elektronik konsumen pada 2026 akan beralih ke kebutuhan pusat data dan infrastruktur AI mulai 2027.

Perubahan tersebut diperkirakan berdampak langsung pada ketersediaan memori LPDDR, jenis chip hemat daya yang selama ini menjadi komponen utama smartphone, tablet, hingga laptop modern.

Akibat terbatasnya pasokan, Apple disebut berpotensi memangkas pesanan chip A20 yang akan digunakan pada perangkat generasi berikutnya sekitar 10 hingga 20 persen dibandingkan rencana awal untuk periode akhir 2026 hingga awal 2027.

Sebelumnya, CEO Apple Tim Cook juga telah mengakui bahwa biaya komponen memori mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi perusahaan dalam menjaga efisiensi biaya produksi tanpa mengorbankan inovasi produk.

Meski demikian, Kuo menilai kerja sama dengan CXMT bukan solusi instan. Kapasitas produksi perusahaan asal China tersebut dinilai belum cukup besar untuk langsung mengatasi kekurangan pasokan memori global maupun menekan biaya produksi Apple secara signifikan.

Namun, langkah tersebut dipandang sebagai strategi diversifikasi rantai pasok yang penting. Dengan memiliki lebih banyak pemasok, Apple dapat mengurangi ketergantungan pada produsen tertentu sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok di tengah dinamika geopolitik dan meningkatnya permintaan chip untuk industri AI.

Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan keputusan apakah akan menyetujui permintaan Apple untuk bekerja sama dengan CXMT. Jika disetujui, kebijakan tersebut berpotensi menjadi salah satu langkah paling penting dalam strategi pasokan Apple menghadapi persaingan teknologi global.

(Sumber: Gizmochina)