![]() |
| BI beri insentif LCT 10% untuk kurangi ketergantungan dolar AS. Transaksi tanpa dolar tembus Rp575 triliun. Simak kebijakan terbaru dan daftar negara mitra. (Foto: ist) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Bank Indonesia (BI) resmi mengeluarkan kebijakan insentif anyar bagi pelaku usaha yang memanfaatkan skema transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus memperdalam pasar valuta asing (valas) domestik.
Kebijakan tersebut diumumkan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu, 22 Juli 2026. Insentif diberikan dalam bentuk penambahan premi swap beli lindung nilai (swap jual lindung nilai kepada BI) sebesar 10 persen, serta pengurangan premi domestic non-deliverable forward (DNDF) jual lindung nilai sebesar 10 persen.
"Ini tidak hanya meningkatkan local currency transaction, tapi juga memberikan manfaat bagi pendalaman pasar valas dalam negeri," ujar Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi BI untuk mendiversifikasi transaksi valas. Dengan skema LCT, pelaku usaha dapat melakukan transaksi perdagangan dan investasi langsung menggunakan mata uang lokal masing-masing negara, tanpa perlu melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.
Saat ini, BI telah menjalin kerja sama LCT dengan enam negara mitra, yakni Malaysia, Thailand, China, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA) . Ke depan, BI disebut-sebut tengah menjajaki perluasan kerja serupa dengan Arab Saudi, Singapura, dan India guna mengakomodasi kebutuhan transaksi seperti haji dan umrah.
Pertumbuhan Transaksi LCT Signifikan
Upaya de-dolarisasi ini menunjukkan tren positif. BI mencatat volume transaksi LCT pada Januari–April 2026 mencapai 22,61 miliar dolar AS, melonjak 309 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 7,33 miliar dolar AS. Total transaksi LCT dengan enam negara mitra hingga Mei 2026 bahkan telah mencapai 32,89 miliar dolar AS atau setara Rp 575,72 triliun.
China menjadi mitra terbesar dengan kontribusi transaksi mencapai 27,93 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini didorong oleh efisiensi biaya yang dirasakan pelaku usaha, karena transaksi langsung antarmata uang lokal menghilangkan biaya konversi ganda yang biasanya muncul jika harus melalui dolar AS.
Sinergi Kebijakan tanpa Kerek Suku Bunga
Pemberian insentif LCT merupakan bagian dari bauran kebijakan BI yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen. BI menilai bahwa pemberian insentif bagi aliran masuk modal asing dan perluasan LCT dinilai lebih efektif dibandingkan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Perry menjelaskan bahwa langkah ini tidak hanya mendorong penggunaan mata uang lokal tetapi juga menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global. Selain insentif LCT, BI juga menaikkan insentif swap lindung nilai bagi investasi portofolio asing dan memberikan insentif baru untuk transaksi DNDF.
Melalui paket kebijakan ini, BI optimistis pasar uang dan valas domestik akan semakin dalam serta ketahanan eksternal perekonomian nasional akan tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
( berbagai sumber)
