GEBRAK.ID, JAKARTA -- Pemerintah terus meluncurkan berbagai program pendidikan baru untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, publik mulai mengenal Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Di Jawa Barat, juga hadir program Sekolah Maung yang diinisiasi pemerintah provinsi.
Meski sama-sama bertujuan meningkatkan mutu pendidikan, keempat program tersebut memiliki sasaran, konsep, hingga tujuan yang berbeda. Ada yang dikhususkan bagi anak dari keluarga miskin, ada yang mencetak talenta unggul bertaraf internasional, hingga sekolah yang menggabungkan seluruh jenjang pendidikan dalam satu kawasan.
Lalu, apa saja perbedaannya? Berikut penjelasannya.
1. Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT)
Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) merupakan program baru yang diperkenalkan pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto. Berbeda dengan Sekolah Rakyat, SNT tidak menggunakan sistem asrama.
Sekolah ini dirancang sebagai sekolah unggulan nonasrama yang mengintegrasikan jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK dalam satu kawasan pendidikan.
Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi hampir miskin, pas-pasan, hingga masyarakat umum agar memperoleh akses pendidikan berkualitas.
Presiden Prabowo menegaskan siswa tetap pulang ke rumah setelah kegiatan belajar selesai. Untuk mendukung akses, pemerintah akan menyediakan layanan bus antar-jemput.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan pemerintah menargetkan pembangunan 100 Sekolah Nasional Terintegrasi di berbagai daerah.
"Yang ini merupakan sekolah unggul yang tidak berasrama. Tahun ini direncanakan bangun 100 Sekolah Nasional Terintegrasi, dan 500 sekolah hingga 2030," ujar Abdul Mu'ti pada Juli 2026.
Poin utama SNT:
* Sekolah unggulan tanpa asrama.
* Menggabungkan PAUD, SD, SMP, dan SMA/SMK dalam satu kawasan.
* Menyasar keluarga ekonomi hampir miskin, pas-pasan, dan masyarakat umum.
* Pemerintah menyiapkan bus antar-jemput.
* Target 100 sekolah tahun 2026 dan 500 sekolah hingga 2030.
2. Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat merupakan program prioritas pemerintah yang dikelola Kementerian Sosial.
Berbeda dengan SNT, Sekolah Rakyat menggunakan sistem asrama (boarding school). Seluruh kebutuhan siswa, mulai dari pendidikan, tempat tinggal, makan, hingga kebutuhan sehari-hari ditanggung negara.
Program ini ditujukan khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem sebagai upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Pemerintah menilai kemiskinan bukan hanya berdampak pada biaya sekolah, tetapi juga memengaruhi gizi, lingkungan belajar, hingga tingginya risiko putus sekolah.
Karena itu, Sekolah Rakyat hadir bukan untuk mencari siswa paling berprestasi, melainkan memberikan kesempatan kepada anak-anak dari kelompok paling rentan agar memperoleh pendidikan berkualitas.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menargetkan sebanyak 183 Sekolah Rakyat beroperasi hingga akhir 2026 dengan kapasitas sekitar 45.000 siswa.
Poin utama Sekolah Rakyat:
* Dikelola Kementerian Sosial.
* Berkonsep sekolah berasrama.
* Gratis, seluruh biaya ditanggung negara.
* Khusus bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem.
* Target 183 sekolah hingga akhir 2026.
3. Sekolah Garuda
Jika Sekolah Rakyat berfokus pada pemerataan kesempatan, Sekolah Garuda diarahkan untuk mencetak talenta unggul Indonesia.
Program ini berada di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan tujuan melahirkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global, khususnya pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Menurut Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, Sekolah Garuda merupakan bagian dari visi Presiden Prabowo untuk membangun sekolah unggulan berasrama di berbagai daerah.
Program ini terdiri atas dua skema.
A. Sekolah Garuda Transformasi
Program ini meningkatkan kualitas SMA dan MA unggulan yang sudah ada agar mampu mencapai standar internasional.
Fokus pengembangannya meliputi:
* Peningkatan kapasitas guru.
* Penguatan manajemen sekolah.
* Pembinaan siswa agar mampu diterima di 100 universitas terbaik dunia.
B. SMA Unggul Garuda Baru
Berbeda dengan skema transformasi, program ini membangun sekolah baru dari nol.
Sekolah menggunakan sistem berasrama dengan fasilitas modern dan diprioritaskan berada di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) atau daerah yang masih minim akses pendidikan berkualitas.
Sekolah ini mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027 dengan lokasi perintis antara lain di Konawe Selatan (Provinsi Sulawesi Tenggara) dan Bulungan (Kalimantan Utara).
Poin utama Sekolah Garuda:
* Berfokus mencetak siswa berprestasi.
* Mengembangkan talenta di bidang STEM.
* Bertujuan menyiapkan lulusan menuju kampus terbaik dunia.
* Memiliki skema Transformasi dan Garuda Baru.
* Garuda Baru dan Transformasi menggunakan sistem asrama.
4. Sekolah Maung
Selain program pemerintah pusat, Jawa Barat juga memiliki Sekolah Maung atau Manusia Unggul.
Program ini merupakan sekolah unggulan jenjang SMA dan SMK yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Sekolah Maung bertujuan menjaring siswa berprestasi, baik akademik maupun nonakademik, sekaligus memperkuat pembentukan karakter.
Selain kemampuan akademik, program ini juga menekankan:
* Penguatan karakter.
* Pelestarian nilai budaya lokal.
* Pembinaan kesehatan fisik.
* Penguatan mental dan kepemimpinan.
Apa Perbedaan Paling Mendasar?
Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan utama keempat program tersebut.
Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT)
* Sasaran: Keluarga hampir miskin, pas-pasan, dan masyarakat umum.
* Konsep: Sekolah unggulan tanpa asrama.
* Fokus: Pemerataan akses pendidikan berkualitas.
Sekolah Rakyat
* Sasaran: Keluarga miskin dan miskin ekstrem.
* Konsep: Sekolah berasrama gratis.
* Fokus: Memutus rantai kemiskinan.
Sekolah Garuda
* Sasaran: Siswa berprestasi.
* Konsep: Sekolah unggulan bertaraf internasional dan berasrama.
* Fokus: Mencetak talenta global di bidang sains dan teknologi.
Sekolah Maung
* Sasaran: Siswa SMA dan SMK berprestasi di Jawa Barat.
* Konsep: Sekolah unggulan berbasis karakter.
* Fokus: Prestasi akademik, karakter, budaya, kesehatan fisik, dan kepemimpinan.
Meski memiliki pendekatan yang berbeda, seluruh program tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kualitas pendidikan nasional sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing kelompok masyarakat.
(Berbagai Sumber)
