| Gubernur Pramono Anung pastikan pelintasan sebidang Stasiun Grogol ditutup pasca Flyover Latumenten rampung. Progres 55,2%, target selesai 15 Desember 2026. ( Foto: jakarta.go.id) |
Editor:Damar Pratama
GEBRAK.ID,JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan bahwa pelintasan sebidang kereta api di kawasan Latumenten, Jakarta Barat, tepatnya di sekitar Stasiun Grogol, akan ditutup setelah pembangunan Flyover Latumenten selesai.
Penutupan ini dilakukan untuk mengurai kemacetan yang selama ini kerap terjadi akibat aktivitas buka-tutup palang pintu perlintasan kereta api.
"Kalau ini bisa selesai, maka kemacetan di lokasi ini, termasuk nanti akan diatur. Saya sudah mendapatkan laporan dari Kepala Dinas Bina Marga bahwa yang di bawahnya ini ditutup," ujar Pramono saat meninjau progres pembangunan Flyover Latumenten, Kamis (2/7/2026).
Seluruh kendaraan nantinya akan diarahkan melintas melalui flyover sehingga tidak lagi bersinggungan langsung dengan jalur kereta api . Dengan demikian, arus lalu lintas di kawasan Latumenten diharapkan menjadi lebih lancar sekaligus mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang.
"Sehingga dengan demikian siapa pun harus naik ke atas, supaya perlintasan yang sebidang kereta api ini tidak lagi terganggu dan juga menimbulkan kecelakaan seperti yang pernah terjadi di Bekasi pada waktu itu," ujarnya.
Progres Pembangunan dan Target Rampung
Pembangunan Flyover Latumenten yang menjadi prioritas Pemprov DKI Jakarta ini saat ini telah mencapai progres 55,2 persen dengan nilai proyek sekitar Rp 259 miliar.
Pramono menargetkan proyek ini dapat rampung pada 15 Desember 2026. Menurutnya, pembangunan flyover tersebut menjadi prioritas untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di sejumlah kawasan, seperti Grogol, Pluit, hingga Slipi.
"Flyover Latumenten ini salah satu flyover yang paling ditunggu di Jakarta. Karena di sini kalau dilihat pagi, sore, siang selalu kemacetannya tinggi sekali," kata Pramono.
Kehadiran Flyover Latumenten diprediksi mampu memangkas waktu tempuh perjalanan hingga 10-15 menit. Selama ini, kendaraan yang melintas di kawasan tersebut kerap tertahan ketika pintu pelintasan ditutup untuk memberi jalan bagi kereta api, sehingga memicu antrean panjang, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Akses di Bawah Flyover Tetap Dibuka
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo menjelaskan, penutupan hanya diberlakukan pada pelintasan rel kereta api. Jalan di bawah flyover tetap dapat digunakan oleh kendaraan untuk berputar arah.
"Jadi nanti setelah ditutup perlintasannya, jalan ini tetap berfungsi. Jadi dari arah selatan mau balik ke selatan lagi itu masih bisa dimanfaatkan untuk berputar di lokasi ini. Begitu pula yang dari arah utara mau balik ke utara, itu masih bisa berputar. Jadi yang ditutup hanya di perlintasannya," kata Heru.
Selain itu, masyarakat tetap dapat memanfaatkan area di bawah flyover untuk mengakses halte Transjakarta yang akan dibangun di sisi timur dan barat flyover. Fasilitas ini terintegrasi dengan Stasiun Grogol untuk memudahkan perpindahan moda transportasi.
Fasilitas Ramah Disabilitas
Pramono juga menekankan pentingnya aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Ia meminta agar lift yang dibangun di flyover dirawat dengan baik agar tetap berfungsi.
"Yang paling penting tempat ini juga ramah disabilitas. Saya sudah minta kepada Kepala Dinas untuk liftnya itu betul-betul terus-menerus dipersiapkan untuk disabilitas. Jangan hanya karena di awal dibuka kemudian ada dan tidak dirawat," tegasnya.
Harapan Mengurai Kemacetan Ibu Kota
Proyek Flyover Latumenten merupakan salah satu ikhtiar Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi persoalan perlintasan sebidang yang selama ini menjadi sumber kemacetan dan kecelakaan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno sebelumnya menyatakan bahwa masih terdapat beberapa perlintasan sebidang di Jakarta yang belum dilengkapi penutup otomatis, dan evaluasi terus dilakukan untuk meningkatkan keselamatan transportasi.
Pembangunan Flyover Latumenten ini juga menjadi salah satu proyek yang dinantikan warga Grogol Petamburan yang telah puluhan tahun mengalami kemacetan parah di kawasan tersebut.
Pramono berharap proyek ini dapat selesai sesuai jadwal sehingga memberikan dampak nyata terhadap kelancaran mobilitas warga Jakarta.
"Ini salah satu proyek prioritas Pemerintah DKI Jakarta yang saya harapkan akan bisa selesai tanggal 15 Desember tahun 2026," ucap Pramono.
( berbagai sumber)