Editor: Damar Pratama
Kiper Timnas Swiss, Gregor Kobel, mengaku masih larut dalam euforia
setelah membawa negaranya melaju ke babak perempat final Piala Dunia
2026. (Foto: Tangkapan layar Instagram)
GEBRAK.ID, VANCOUVER – Kiper Timnas Swiss, Gregor Kobel, mengaku masih larut dalam euforia setelah membawa negaranya melaju ke babak perempat final Piala Dunia 2026. Penjaga gawang berusia 28 tahun itu menyebut keberhasilan menembus delapan besar sebagai salah satu momen paling berkesan sepanjang karier sepak bolanya.
Swiss memastikan tiket ke perempat final usai menyingkirkan Kolombia melalui drama adu penalti dalam laga babak 16 besar yang berlangsung sengit, Rabu (8/7/2026).
Bagi Kobel, kemenangan tersebut bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan pencapaian bersejarah yang akan selalu dikenang oleh seluruh rakyat Swiss.
"Ini adalah salah satu hari terindah dalam hidup saya, setidaknya dalam dunia olahraga. Saya sangat bahagia untuk tim ini, untuk kami semua, karena kami memiliki begitu banyak orang hebat di dalam tim," ujar Kobel seusai pertandingan.
Kobel mengatakan keberhasilan Swiss tidak lepas dari kekompakan para pemain yang saling mendukung sepanjang pertandingan. Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi kekuatan terbesar tim ketika menghadapi tekanan dari Kolombia.
"Melihat bagaimana para pemain saling mendorong, saling mendukung, dan emosi yang muncul dalam situasi seperti ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Rasanya benar-benar unik," katanya.
Salah satu momen paling menegangkan terjadi saat pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti. Meski tekanan begitu besar, Kobel mengaku tetap percaya diri karena yakin dengan kualitas rekan-rekannya.
"Saya memiliki kepercayaan penuh kepada para pemain yang mengambil tendangan penalti. Saya juga percaya pada kemampuan diri sendiri untuk membantu tim," ucapnya.
Sepanjang pertandingan, Swiss harus menghadapi permainan fisik Kolombia yang memaksa mereka bertahan dalam beberapa fase. Namun, Kobel menilai timnya mampu menjaga konsentrasi dan mental hingga peluit akhir dibunyikan.
"Kami tahu mereka adalah tim yang sangat kuat secara fisik. Akan ada saat-saat kami harus bertahan dan tetap tenang. Saya pikir kami berhasil melewati semua itu dengan sangat baik," jelas Kobel.
Kobel juga memberikan apresiasi kepada seluruh anggota tim yang terus berjuang meski pertandingan diwarnai banyak duel keras dan tekanan tinggi.
"Ini bukan pertandingan yang mudah. Ada banyak pelanggaran dan kontak fisik, tetapi kami mampu tetap fokus. Karena itu saya sangat bangga kepada semua orang di tim ini," katanya.
Menurut Kobel, pencapaian Swiss menjadi salah satu dari delapan tim terbaik dunia merupakan bukti bahwa kerja keras yang dibangun selama beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil.
"Untuk negara kecil seperti Swiss bisa berada di delapan besar Piala Dunia adalah sesuatu yang luar biasa. Saya sangat bahagia untuk para suporter dan semua orang yang selama ini mendukung kami," ujar kiper yang tampil gemilang sepanjang turnamen tersebut.
Perjalanan Swiss di Piala Dunia 2026 belum berakhir. Tantangan yang lebih besar telah menanti pada babak perempat final, saat mereka dijadwalkan menghadapi juara bertahan Argentina di Arrowhead Stadium, Kansas City, Sabtu (11/7/2026) waktu setempat.
Menghadapi tim bertabur bintang dengan pengalaman panjang di panggung internasional, Swiss bertekad mempertahankan momentum positif. Kobel menegaskan timnya belum puas hanya mencapai delapan besar dan siap memberikan perlawanan demi menjaga asa menciptakan kejutan di Piala Dunia 2026.
(Sumber: FIFA)