![]() |
| Gunung Anak Krakatau erupsi tiga kali pada 8 Juli 2026. PVMBG menyatakan status masih Siaga dan mengimbau warga menjauhi radius 3 km.( Foto: ist) |
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID,JAKARTA– Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dengan mengalami tiga kali erupsi pada Rabu (8/7/2026) pagi. Meski letusan masih tergolong kecil, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat tetap mematuhi rekomendasi keselamatan karena status gunung masih berada pada Level III atau Siaga.
Berdasarkan laporan resmi PVMBG, erupsi terjadi pada pukul 08.42 WIB, 09.35 WIB, dan 09.54 WIB. Letusan terakhir menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 100 meter di atas puncak gunung atau sekitar 257 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu terpantau berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut mengikuti arah angin. Aktivitas erupsi tersebut terekam oleh peralatan pemantauan kegempaan yang dioperasikan PVMBG.
PVMBG menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Imbauan tersebut bertujuan mengantisipasi potensi lontaran material pijar, hujan abu, maupun aktivitas vulkanik lain yang dapat terjadi sewaktu-waktu selama fase erupsi masih berlangsung.
Wisata Pantai Anyer dan Carita Masih Aman
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memastikan aktivitas wisata di kawasan pesisir Selat Sunda, seperti Pantai Anyer, Pantai Carita, hingga Tanjung Lesung, masih aman untuk dikunjungi.
Kepala BPBD Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan jarak kawasan wisata dengan Gunung Anak Krakatau mencapai sekitar 40 kilometer sehingga belum terdampak langsung oleh aktivitas erupsi saat ini.
Meski demikian, BPBD terus berkoordinasi dengan PVMBG, BMKG, pemerintah daerah, serta aparat terkait untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api tersebut secara berkala.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Fluktuatif
Dalam beberapa pekan terakhir, Gunung Anak Krakatau memang menunjukkan aktivitas vulkanik yang fluktuatif. PVMBG mencatat beberapa kali erupsi dengan tinggi kolom abu yang bervariasi, disertai gempa letusan dan tremor yang masih berada dalam pengawasan petugas pos pemantauan.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang tumbuh dari kaldera letusan besar Krakatau tahun 1883. Hingga kini, aktivitas vulkaniknya dipantau selama 24 jam menggunakan jaringan seismograf, kamera pemantau, serta pengamatan visual untuk mendeteksi perubahan aktivitas sedini mungkin.
PVMBG mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi. Warga diharapkan mengikuti perkembangan terbaru melalui PVMBG, Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat guna memperoleh informasi yang akurat terkait kondisi Gunung Anak Krakatau.
Pemerintah juga meminta masyarakat tetap tenang, tidak panik, namun selalu meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan otoritas kebencanaan selama status Siaga masih diberlakukan.
( berbagai sumber)
