Harga Minyak Dunia Anjlok, Menteri Keuangan Purbaya Beri Sinyal Kuat Harga Pertamax Segera Turun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beri sinyal harga Pertamax segera turun seiring anjloknya harga minyak dunia, yang akan meredakan tekanan inflasi. (Foto: Kemenkeu) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sinyal kuat bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax akan segera mengalami penurunan. Keyakinan ini menyusul tren penurunan harga minyak dunia yang berlanjut setelah sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2026). Ia menjelaskan bahwa penurunan harga Pertamax diyakini akan berlangsung secara bertahap, sejalan dengan dinamika harga minyak mentah global.

"Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak dunia kan udah turun pelan-pelan juga kan, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," ujar Purbaya, dikutip dari keterangan resminya.

Sinyal ini menjadi angin segar bagi masyarakat setelah pada awal Juni lalu harga Pertamax sempat mengalami penyesuaian naik signifikan menjadi Rp16.250 per liter, menyusul lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus di atas US$ 100 per barel pasca pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Landasan Penurunan Harga

Optimisme Menkeu Purbaya didasari oleh data terkini pergerakan harga minyak mentah. Pada perdagangan Kamis (2/7/2026) pagi, harga minyak mentah jenis Brent tercatat di level US$70,82 per barel sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$67,74 per barel.

Penurunan ini bahkan lebih dalam lagi dalam dua pekan terakhir, di mana Brent telah terkoreksi sekitar 12% dari posisi US$80,57 per barel pada 19 Juni lalu. Tekanan terhadap harga minyak muncul seiring meredanya kekhawatiran pasokan setelah adanya sinyal positif dari pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran di Doha.

Proyeksi penurunan harga minyak ini juga didukung oleh survei Reuters yang melibatkan 31 ekonom dan analis. Rata-rata proyeksi harga minyak Brent untuk tahun 2026 dipangkas menjadi US$84,50 per barel, turun dari estimasi bulan sebelumnya sebesar US$90,44 per barel.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, bahkan memperkirakan penurunan harga Pertamax sudah seharusnya terjadi pada awal Juli 2026. "Mestinya, awal Juli ini pertamax akan diturunkan harganya," ujar Fahmy.

Dampak pada Inflasi

Menteri Keuangan menjelaskan bahwa kenaikan inflasi belakangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat sementara, seperti lonjakan harga pangan dan energi. Dengan normalisasi harga komoditas, termasuk minyak, tekanan inflasi diperkirakan akan mereda dalam beberapa bulan mendatang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan angka 2,29%, di mana komoditas bensin memberikan andil terbesar (0,21%) akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 1 dan 10 Juni lalu.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa inflasi inti (core inflation) masih terkendali di level 2,76% secara tahunan, mengindikasikan bahwa kenaikan harga bukan disebabkan oleh lonjakan permintaan masyarakat yang terlalu cepat.

"Core inflation-nya 2,76 persen, ini masih relatif terkendali. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat, melainkan karena harga yang fluktuatif dan itu harusnya akan hilang dalam beberapa bulan ke depan," jelas Purbaya.

Sementara itu, meskipun sinyal penurunan harga Pertamax mulai terlihat, hingga saat ini PT Pertamina (Persero) belum secara resmi mengumumkan penyesuaian harga untuk produk Pertamax RON 92. Namun, sebagai langkah awal, Pertamina telah menurunkan harga beberapa produk nonsubsidi lainnya seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex efektif mulai 1 Juli 2026.

(berbagai sumber