Harga Pertamax Naik Tembus Rp16.250, Pengguna Beralih ke Pertalite Melonjak Hampir 10 Persen

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terutama Pertamax dan produk sejenis, mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Sejak harga Pertamax naik pada Juni 2026, penggunaan Pertalite tercatat mengalami lonjakan signifikan. (Foto ilustrasi: Pertamina/Gebrak.id)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terutama Pertamax dan produk sejenis, mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Sejak harga Pertamax naik pada Juni 2026, penggunaan Pertalite tercatat mengalami lonjakan signifikan.

PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan konsumsi Pertalite meningkat hingga 9,4 persen hanya sepanjang Juli 2026. Meski demikian, perusahaan memastikan pasokan BBM bersubsidi tersebut masih dalam kondisi aman dan terkendali.

Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading, Eko Ricky Susanto, mengatakan lonjakan konsumsi terjadi setelah masyarakat mulai beralih dari BBM nonsubsidi ke Pertalite.

"Saat ini terjadi peningkatan konsumsi Pertalite hampir 9,4 persen hanya di bulan Juli saja," ujar Eko dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Menurut Eko, perubahan tersebut dipicu kenaikan harga Pertamax dan sejumlah BBM nonsubsidi lainnya. Jika sebelumnya Pertamax dijual di kisaran Rp12.000 per liter, sejak 10 Juni 2026 harganya melonjak menjadi Rp16.250 per liter. Di beberapa wilayah, harga Pertamax bahkan telah menyentuh kisaran Rp17.000 per liter.

Kondisi itu membuat sebagian pengguna memilih beralih ke Pertalite yang dijual dengan harga lebih terjangkau.

Data Pertamina menunjukkan, sebelum penyesuaian harga BBM nonsubsidi, konsumsi Pertamax mencapai sekitar 23,2 persen dari total penjualan bensin, sedangkan Pertalite mendominasi dengan pangsa 75,4 persen.

JANGAN TERLEWATKAN Konsumsi Pertamax Cs Turun 18% Usai Harga Naik, Masyarakat Beralih ke Pertalite 

Namun setelah kenaikan harga, komposisi tersebut berubah cukup drastis. Pangsa-konsumsi Pertalite meningkat menjadi 80,3 persen, sementara Pertamax turun menjadi 18,8 persen. Adapun Pertamax Green menyumbang 0,2 persen dan Pertamax Turbo sebesar 0,7 persen.

"Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei, kondisi untuk produk Pertalite JKBP sekitar 75 persen, saat ini sudah bergeser ke 80 persen. Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoline sudah bergeser kepada BBM PSO," jelas Eko.

Tidak hanya Pertalite, konsumsi Biosolar juga mengalami peningkatan. Pangsa penggunaan Biosolar naik menjadi 94,2 persen dari sebelumnya 93 persen.

Sebaliknya, konsumsi BBM diesel nonsubsidi, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, mengalami penurunan sekitar 6,4 persen dibandingkan rata-rata konsumsi harian sebelumnya.

Eko menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi peralihan sebagian kendaraan industri yang kini lebih memilih menggunakan Biosolar. "Pengaruhnya terhadap produk Dex Series, Dexlite maupun Pertamina Dex itu juga terjadi penurunan hampir 6,4 persen," katanya.

Meski terjadi lonjakan permintaan BBM bersubsidi, Pertamina memastikan distribusi dan ketersediaan stok Pertalite maupun Biosolar masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

(Sumber: Pertamina)