GEBRAK.ID – Burnout atau kelelahan kerja seringkali dikaitkan dengan beban pekerjaan yang tinggi. Namun, sebuah tinjauan ilmiah terhadap 1.192 penelitian selama 35 tahun mengungkap bahwa penyebabnya jauh lebih kompleks daripada sekadar banyaknya pekerjaan.
Hasil kajian yang dikutip dari Psychology Today, Selasa (7/7/2026) menunjukkan bahwa pekerja akan lebih termotivasi, produktif, dan memiliki kesejahteraan yang lebih baik apabila tiga kebutuhan psikologis dasar mereka terpenuhi, yakni otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial.
Temuan ini berlaku untuk berbagai profesi, kelompok usia, hingga jenjang karier, sehingga menjadi gambaran penting bagi perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Salah satu faktor utama yang menentukan kondisi psikologis pekerja adalah otonomi atau kebebasan dalam menjalankan pekerjaan.
Peneliti menemukan bahwa karyawan cenderung memiliki motivasi lebih tinggi ketika diberikan kepercayaan untuk mengambil keputusan sesuai tanggung jawabnya. Sebaliknya, pengawasan yang terlalu ketat dan rasa selalu dikendalikan justru membuat semangat kerja menurun.
Saat pekerja merasa tidak memiliki kendali atas pekerjaannya, risiko mengalami stres berkepanjangan hingga burnout pun meningkat.
Selain itu, pekerja juga membutuhkan kesempatan untuk terus berkembang. Dalam penelitian tersebut, aspek kompetensi menjadi faktor penting yang memengaruhi motivasi seseorang.
Kesempatan mempelajari keterampilan baru, menerima masukan yang membangun, dan mampu menghadapi tantangan kerja membuat karyawan merasa lebih percaya diri.
Sebaliknya, pekerjaan yang terasa membingungkan, terlalu berat, atau tidak memberi ruang untuk berkembang dapat memicu rasa frustrasi dan menurunkan kepuasan kerja.
Tak kalah penting adalah keterhubungan sosial di lingkungan kerja. Dukungan dari rekan kerja, komunikasi yang baik dengan atasan, serta rasa diterima dalam sebuah tim terbukti berperan besar menjaga kesehatan mental pekerja.
Temuan ini dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya sistem kerja jarak jauh (remote working) maupun hybrid yang memang menawarkan fleksibilitas, tetapi berpotensi mengurangi interaksi sosial antarpegawai.
Peneliti juga menemukan bahwa kualitas motivasi memiliki pengaruh lebih besar dibanding sekadar besarnya motivasi.
Karyawan yang bekerja karena merasa senang, menikmati pekerjaannya, dan menemukan makna dalam apa yang dilakukan cenderung memiliki kinerja lebih baik dibanding mereka yang bekerja hanya karena tekanan, rasa takut, tuntutan, atau sekadar mengejar imbalan.
Sebaliknya, pekerja yang merasa kehilangan kendali, terbebani oleh tuntutan pekerjaan, atau terisolasi dari lingkungan kerja memiliki risiko lebih tinggi mengalami burnout, menurunnya produktivitas, hingga muncul keinginan untuk mengundurkan diri.
Dalam kajian tersebut, para peneliti juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurut mereka, teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan karyawan, bukan justru mengurangi kesempatan berkembang, rasa memiliki kendali, maupun hubungan sosial di tempat kerja.
Sebagai langkah pencegahan, para peneliti menyarankan pekerja untuk terus mengembangkan keterampilan baru, mempererat hubungan dengan rekan kerja, menghubungkan pekerjaan dengan nilai-nilai pribadi, serta lebih aktif berdiskusi dengan atasan mengenai cara kerja yang paling efektif.
Dengan memenuhi tiga kebutuhan psikologis dasar tersebut, risiko burnout dapat ditekan sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan mendukung kesejahteraan jangka panjang.
(Sumber: Psychology Today)
