Indonesia Luncurkan Prototipe Vaksin mRNA DBD, Klaim Terbaik di Dunia

 

Indonesia luncurkan prototipe vaksin mRNA DBD hasil kolaborasi UI dan Tsinghua. Klaim titer antibodi lebih baik dari vaksin komersial, bidik uji klinis 6 bulan.( Foto: ist) 


Editor: Devona R

GEBRAK.ID JAKARTA---Indonesia resmi meluncurkan prototipe vaksin demam berdarah dengue (DBD) berbasis teknologi messenger RNA (mRNA) pada Rabu (8/7). Vaksin ini berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah jika seluruh tahapan penelitian berhasil dilalui. 

Peluncuran prototipe ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University, PT Etana Biotechnologies Indonesia, serta didukung pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). 

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan komitmen penuh institusinya untuk mendampingi proses riset dari hulu ke hilir. BPOM ingin memastikan kandidat vaksin ini sukses melaju hingga tahapan uji klinis. 

"BPOM punya tekad untuk secara maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan karena ini kita akan buat sejarah, mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," ujar Taruna dalam konferensi pers di Jakarta. 

Hasil Uji Praklinis Lebih Baik dari Vaksin Komersial

Ketua Tim Peneliti Vaksin Dengue mRNA UI, Prof Beti Ernawati Dewi, menjelaskan bahwa prototipe vaksin ini masih berada pada tahap praklinis. Namun, hasil pengujian awal menunjukkan capaian yang menjanjikan. 

"Dari hasil pre-clinical trial yang kita lakukan, titer antibodi untuk menetralisasi virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 strain Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang sudah ada di Indonesia," paparnya. 

Vaksin ini dirancang khusus untuk memberikan perlindungan terhadap empat serotipe virus dengue yang banyak ditemukan di Indonesia. Tim peneliti menargetkan vaksin tersebut dapat memasuki tahap uji klinis awal pada manusia dalam enam bulan mendatangM

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pengembangan vaksin ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian industri vaksin nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. 

"Kalau ini berhasil, akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia. Ini juga akan menjadi antigen ke-16 dengan teknologi paling baru, yaitu mRNA," kata Budi. 

Saat ini, dari 15 antigen yang digunakan dalam program vaksinasi nasional, baru empat yang diproduksi di dalam negeri, sedangkan sisanya masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. 

Indonesia setiap tahun mengeluarkan devisa sekitar US$ 400-500 juta atau sekitar Rp 6,8-8,5 triliun untuk mengimpor vaksin. Karena itu, penguasaan teknologi vaksin, termasuk platform mRNA dan viral vector, dinilai penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan. 

Kolaborasi Strategis Indonesia-China

Rektor Universitas Indonesia Heri Hermansyah mengatakan kolaborasi dengan Tsinghua University dalam pengembangan vaksin ini mampu memberikan efek berganda (multiplier effect), seperti hilirisasi industri dan penguatan Program Imunisasi Nasional. 

"Kita tidak cuma menginisiasi pertukaran pelajar. Kita secara aktif bersama-sama menciptakan teknologi kesehatan yang dapat menyelamatkan nyawa, dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," ujarnya. 

Wakil Presiden Tsinghua University Wu Huaqiang menyebut kolaborasi ini sebagai buah nyata kerja sama China dan Indonesia. Teknologi mRNA dinilai menawarkan peluang baru untuk mengembangkan vaksin yang lebih aman dan bisa diadaptasi oleh sistem lokal. 

Kolaborasi yang diresmikan ini memiliki tiga tujuan strategis: meningkatkan kapasitas riset vaksin mRNA, mengembangkan talenta bioteknologi melalui kemitraan akademik, serta menciptakan model respons bersama untuk ancaman penyakit infeksius di tingkat regional. 

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menjelaskan kolaborasi riset ini sebenarnya telah dimulai sejak 2023, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai wakil menteri. Ia mempertemukan peneliti UI dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University karena melihat kesesuaian antara kebutuhan Indonesia dan keahlian yang dimiliki universitas tersebut. 

Pendanaan Riset Capai Rp 16 Miliar

Direktur Fasilitas Riset LPDP Ayom Widipaminto mengatakan lembaganya mengalokasikan dana sebesar Rp 7 miliar untuk penelitian ini, sementara PT Etana memberikan Rp 9 miliar. Total pendanaan riset mencapai Rp 16 miliar untuk pengembangan prototipe hingga pelaksanaan uji klinis awal. 

"LPDP Rp 7 miliar, Etana Rp 9 miliar. Jadi Rp 16 miliar dedikasi untuk membeli prototype dan uji klinis," kata Ayom. 

LPDP juga mengungkapkan dana abadi penelitian saat ini telah mencapai sekitar Rp 14 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 1 triliun dapat dimanfaatkan setiap tahun untuk mendukung riset strategis nasional, termasuk pengembangan vaksin dan alat kesehatan. 

Target Kemandirian Vaksin Nasional

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan targetnya agar sebelum masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berakhir, kemampuan riset dan produksi vaksin Indonesia jauh lebih kuat .

Pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan 11 vaksin utama agar dapat diproduksi secara mandiri di dalam negeri untuk kebutuhan Program Imunisasi Nasional. Selain mengejar kemampuan memproduksi seluruh antigen secara mandiri, pemerintah juga ingin menguasai dua platform teknologi vaksin yang belum dimiliki Indonesia, yakni teknologi viral vector dan mRNA. 

Pentingnya Vaksin DBD

Taruna Ikrar menambahkan, urgensi kehadiran vaksin dengue ini terbilang sangat tinggi. Sebab, hingga detik ini, dunia medis belum memiliki lini terapi antiviral yang benar-benar spesifik untuk menyembuhkan infeksi virus dengue. 

Data menunjukkan setiap tahunnya secara global sekitar 390 juta orang terinfeksi virus dengue. Sementara data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa setiap tahunnya, 161 ribu orang di Indonesia terinfeksi virus itu, dan 700 orang meninggal karena penyakit tersebut. 

Taruna juga mengenang pengalamannya saat menjalani pendidikan spesialis di University of California, Irvine. Saat itu, ia menangani seorang pasien yang terinfeksi dengue sepulang dari Asia Tenggara dan banyak rekannya di sana belum memiliki pengalaman menangani penyakit tersebut. 

Pengalaman itu, kata Taruna, menunjukkan Indonesia merupakan tempat yang sangat strategis untuk pengembangan riset dengue karena tingginya jumlah kasus membuat tenaga kesehatan dan peneliti Indonesia memiliki pengalaman klinis yang sangat berharga.

( berbagai sumber)