Ini Rahasia TK ABA Semesta Yogyakarta Bikin Anak Betah Sekolah Sejak Hari Pertama MPLS Digelar

Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, TK ABA Semesta di Daerah Istimewa Yogyakarta menerapkan konsep Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) yang berbeda. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, YOGYAKARTA – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, TK ABA Semesta di Daerah Istimewa Yogyakarta menerapkan konsep Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) yang berbeda. Selama dua pekan pertama, sekolah tidak langsung memberikan pembelajaran terstruktur, melainkan memprioritaskan proses adaptasi agar anak merasa aman, nyaman, dan senang berada di lingkungan sekolah.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang terus didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bagi satuan pendidikan, khususnya jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, pengalaman pertama anak di sekolah akan menjadi fondasi penting bagi proses belajar mereka di masa depan.

"Sesuai dengan arahan dari Bapak Presiden tentang membangun gerakan budaya yang ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Maka kami mengajak semua pihak yang menyelenggarakan pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, baik lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan spiritual, maupun lingkungan intelektual," ujar Abdul Mu'ti.

Abdul Mu'ti berharap seluruh sekolah mampu menjadi tempat yang menyenangkan sehingga anak-anak dapat belajar dengan gembira. "Mudah-mudahan dengan pendekatan itu, semua dapat belajar dengan gembira dan sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi anak-anak kita." 

Semangat tersebut diterapkan secara nyata di TK ABA Semesta. Kepala TK ABA Semesta, Shofia Amalia, menjelaskan bahwa dua minggu pertama difokuskan sepenuhnya untuk membantu anak mengenal lingkungan sekolah tanpa tekanan akademik.

"Selama dua minggu pertama belum ada pembelajaran yang terstruktur. Fokus kami adalah mengenalkan lingkungan sekolah, membangun kedekatan antara anak dan guru, serta menghadirkan berbagai kegiatan bermain dan eksplorasi agar anak merasa nyaman," ujar Shofia.

Menurut Shofia, pada masa adaptasi tersebut guru juga melakukan observasi terhadap karakter, kemampuan, kebutuhan, dan perkembangan setiap anak. Hasil pengamatan itu kemudian menjadi dasar dalam menyusun metode pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing peserta didik.

Selama MPLS, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas yang menyenangkan, mulai dari bermain bersama, permainan motorik, mendengarkan dongeng, membuat karya sederhana, hingga menikmati waktu bermain bebas atau free play.

Para guru di TK ABA Semesta di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Metode bermain dipilih karena dinilai sebagai cara paling efektif membantu anak membangun rasa percaya diri, mengenal teman baru, serta berinteraksi dengan guru secara alami.

Guru TK ABA Semesta, Ani Maghfiroh, menilai keberhasilan masa transisi anak tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dukungan penuh dari orang tua.

"Ketika orang tuanya ikhlas melepas anak ke sekolah, percaya pada sekolah, maka proses transisinya akan menjadi lebih mudah," kata Ani.

Karena itu, sebelum tahun ajaran baru dimulai, TK ABA Semesta menggelar pertemuan dengan orang tua untuk menjelaskan program sekolah, tata tertib, serta pentingnya kolaborasi keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Sekolah juga menyiapkan program literasi yang melibatkan keluarga melalui kegiatan Ayah Bercerita. Program tersebut bertujuan menumbuhkan minat baca sejak usia dini sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Selain itu, kegiatan mendongeng menjadi rutinitas harian di sekolah. Para guru meyakini kebiasaan membacakan cerita mampu mengembangkan kemampuan berbahasa, imajinasi, serta kecintaan anak terhadap literasi sejak usia dini.

Melalui pendekatan tersebut, TK ABA Semesta ingin memastikan bahwa hari pertama sekolah bukan menjadi pengalaman yang menegangkan, melainkan awal yang menyenangkan untuk membangun rasa percaya diri, kemandirian, dan semangat belajar anak.

(Sumber: Kemendikdasmen)