![]() |
| PFII akan beroperasi di Jakarta sebagai masa transisi sebelum pengembangan di Bali. Simak lokasi dan target operasional pusat keuangan internasional Indonesia ini. ( Foto: ist) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA– Pemerintah semakin serius merealisasikan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa dua wilayah utama, yaitu Jakarta dan Bali, telah disiapkan sebagai lokasi strategis pusat keuangan global ini.
Namun, dalam implementasinya, pemerintah menerapkan strategi bertahap. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, menjelaskan bahwa pembangunan kawasan utama PFII di Bali membutuhkan waktu persiapan sekitar 2 hingga 3 tahun.
Oleh karena itu, pemerintah akan memanfaatkan masa transisi ini dengan mengoperasikan PFII terlebih dahulu di Jakarta. Lokasi yang disiapkan di Ibu Kota adalah gedung milik Danantara, yang disebut-sebut sebagai gedung Danareksa, sehingga tidak perlu membangun infrastruktur baru dari nol.
"Memang disiapkan satu lokasi di Jakarta yang gedungnya sudah ada," ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (23/7/2026). Sementara untuk lokasi di Bali, pemerintah masih melakukan penjajakan terhadap sejumlah lahan yang dinilai layak untuk mendukung pengembangan pusat keuangan internasional tersebut.
Langkah Strategis dan Target Operasional
Pembentukan PFII merupakan amanat dari Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi global . Setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) PFII disahkan oleh DPR RI pada 21 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto meminta agar pembentukan pusat keuangan ini segera ditindaklanjuti.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan agar PFII dapat mulai beroperasi pada tahun 2026. Pemerintah sedang mengejar penyelesaian peraturan pelaksana, termasuk Peraturan Pemerintah (PP), dalam waktu enam bulan ke depan.
"Operasinya kita harap secepatnya. Kita bisa usahakan tahun ini. Karena uncertainty-nya lebih tinggi, di situlah demand untuk pusat finansial meningkat," jelas Purbaya.
Respons Positif Investor
Rencana ambisius ini dinilai mendapat sambutan positif dari pelaku pasar global. Rosan Roeslani mengaku telah bertemu dengan 11 calon investor internasional, termasuk perwakilan dari family office, yang memberikan respons sangat positif terhadap rencana pembentukan pusat keuangan di Indonesia.
Kehadiran PFII diharapkan dapat menjadi katalis bagi ekonomi nasional, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintahan Prabowo Subianto. Dengan menyediakan ekosistem keuangan berstandar internasional, Indonesia berharap dapat menarik arus modal asing, mendorong inovasi sektor keuangan, dan memperkuat pendanaan untuk proyek-proyek strategis nasional.
( berbagai sumber)
