Kemendikdasmen Kukuhkan Duta Al-Qur'an Bahasa Isyarat, Perkuat Pendidikan Inklusif bagi Siswa Tuli

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin (kiri), saat acara pengukuhan 21 peserta sebagai Duta Al-Qur'an Bahasa Isyarat pada Training of Trainers (ToT) Qur'an Isyarat Batch 3, di Masjid Baitut Tholibin, Kompleks Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (21/7/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif bagi seluruh peserta didik, termasuk penyandang disabilitas rungu. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah mengukuhkan 21 peserta sebagai Duta Al-Qur'an Bahasa Isyarat usai mengikuti Training of Trainers (ToT) Qur'an Isyarat Batch 3, Selasa (21/7/2026).

Program yang berlangsung selama dua hari di Masjid Baitut Tholibin, Kompleks Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, ini ditutup dengan pengukuhan 11 guru dan 10 murid yang diharapkan menjadi agen perubahan dalam memperluas pembelajaran Al-Qur'an menggunakan bahasa isyarat di berbagai daerah.

Selama pelatihan, para peserta dibekali kemampuan membaca, memahami, hingga mengajarkan Al-Qur'an dengan bahasa isyarat. Kompetensi tersebut nantinya dapat diterapkan di sekolah maupun komunitas agar semakin banyak peserta didik penyandang disabilitas rungu memperoleh layanan pendidikan keagamaan yang setara.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyatakan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara tentang akses akademik, tetapi juga kesempatan yang sama dalam membangun kecerdasan spiritual.

"Pendidikan yang inklusif harus menjamin saudara-saudara kita yang Tuli memiliki akses yang setara, tidak hanya dalam urusan akademik, tetapi juga untuk meraih kebahagiaan dan kecerdasan spiritual. Belajar dan mengajar Al-Qur'an dengan bahasa standar saja memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, terlebih lagi dengan bahasa isyarat. Namun, ikhtiar ini adalah bagian penting dari pengabdian kita," ujar Tatang.

Tatang juga mengingatkan bahwa pengukuhan sebagai Duta Al-Qur'an Bahasa Isyarat merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menyebarluaskan ilmu yang telah diperoleh.

"Gelar dan sertifikat yang didapatkan hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari amanah besar. Jadikan ilmu yang didapat sebagai pelita dan teruslah berkolaborasi membangun ekosistem Al-Qur'an bahasa isyarat agar semakin berkembang dan mudah dipahami," jelas Tatang.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Salah seorang peserta didik dari SLB Muhammadiyah Karangpawitan, Garut, Fira, mengaku sangat senang dapat mempelajari Al-Qur'an melalui metode bahasa isyarat.

"Aku sangat senang belajar Al-Qur'an. Di sini saya belajar huruf hijaiyah, seperti alif, ba, ta, sa, jim, ha. Semoga ilmu yang kami terima bisa bermanfaat," ujar Fira.

Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi selama mengikuti pelatihan, Kemendikdasmen juga memberikan penghargaan kepada tiga peserta terbaik, yakni Nafisya Lutsiana, Indah Pujasari, dan Tiara Nida Maharani.

Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap semakin banyak guru dan peserta didik yang mampu menjadi penggerak pembelajaran Al-Qur'an berbasis bahasa isyarat, sehingga pendidikan keagamaan yang inklusif dapat menjangkau lebih banyak penyandang disabilitas rungu di berbagai daerah Indonesia.

(Sumber: Kemendikdasmen)