Mendikdasmen Abdul Mu'ti Dorong Sastra Go Digital, Anak Diminta Aktif Menulis Puisi dan Berkarya

Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti (kanan) saat menjadi narasumber dalam Talkshow Hari Puisi Nasional di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti menyatakan, pentingnya sastra sebagai bagian dari pembentukan karakter dan penguatan literasi peserta didik. Menurutnya, anak-anak Indonesia perlu memperoleh lebih banyak ruang untuk berekspresi dan mengembangkan kreativitas, termasuk melalui ekosistem digital.

Hal itu disampaikan Abdul Mu'ti saat menjadi narasumber dalam Talkshow Hari Puisi Nasional di Jakarta, Senin (27/7/2026). Ia menilai pendidikan yang berkualitas tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu mengembangkan aspek emosional, moral, dan fisik peserta didik secara seimbang.

"Pendidikan itu ada empat, yaitu olah raga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati. Keempatnya harus tumbuh semuanya dan harus kita berikan ruang yang terintegrasi," ujar Mu'ti.

Menurut Mu'ti, sastra menjadi salah satu media efektif untuk menumbuhkan olah rasa. Melalui puisi, cerita, dan karya sastra lainnya, peserta didik dapat menyalurkan gagasan, imajinasi, sekaligus membangun karakter melalui penggunaan bahasa yang santun.

Mu'ti menilai perkembangan teknologi digital seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi dunia sastra. Sebaliknya, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai ruang baru bagi generasi muda untuk berkarya dan memperkuat budaya literasi.

"Kita ke depan perlu memikirkan digital poetry atau puisi-puisi digital. Kita punya Rumah Pendidikan yang bisa diisi oleh anak-anak dan guru dengan berbagai karya, termasuk karya sastra puisi. Selain itu, kita juga memiliki Majalah Literasi yang diterbitkan secara rutin oleh kementerian," kata Mu'ti.

Mu'ti menjelaskan, penguatan literasi melalui sastra juga menjadi bagian dari implementasi kebijakan Pembelajaran Mendalam yang saat ini dikembangkan Kemendikdasmen. Dalam pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga diajak memperluas wawasan melalui berbagai pengalaman belajar.

Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah mengubah konsep pekerjaan rumah (PR). Mu'ti mengatakan, peserta didik tetap memperoleh tugas, namun bukan lagi sekadar mengerjakan soal, melainkan lebih banyak membaca dan menulis.

"Anak-anak masih kita beri PR. Tapi PR-nya tidak mengerjakan soal. PR-nya membaca buku, PR-nya menulis. Literasi dan numerasi kita galakkan dengan memberi ruang yang lebih banyak untuk anak-anak membaca buku-buku nonteks," jelas Mu'ti.

Untuk mendukung program tersebut, Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa akan mendistribusikan sekitar 5,5 juta buku bacaan nonteks ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Kehadiran buku-buku tersebut diharapkan mampu memperkaya referensi bacaan sekaligus meningkatkan minat literasi peserta didik.

Selain menyediakan bahan bacaan, Mu'ti menekankan peran guru sangat menentukan dalam menumbuhkan kecintaan siswa terhadap sastra. Ia mengaku kecintaannya pada puisi lahir berkat inspirasi dari guru Bahasa Indonesia saat masih bersekolah.

"Teaching is inspiring. Mengajar itu menginspirasi, bukan menggurui," ungkap Mu'ti.

Tak hanya itu, Mendikdasmen juga mengajak seluruh sekolah untuk memperbanyak ruang aktualisasi bagi peserta didik melalui berbagai kegiatan literasi, seperti lomba menulis, membaca puisi, komunitas sastra, hingga aktivitas kreatif lainnya.

Menurut Mu'ti, kolaborasi antara sekolah, guru, keluarga, dan komunitas menjadi kunci dalam membangun budaya literasi di Indonesia. Dengan semakin terbukanya ruang berekspresi, termasuk melalui platform digital, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang literat, kreatif, berkarakter, sekaligus mencintai budaya bangsa.

(Sumber: Kemendikdasmen)