Microsoft PHK 4.800 Karyawan di Seluruh Dunia, Ini Alasan di Balik Restrukturisasi Terbaru

Salah satu kantor Microsoft di London, Inggris. (Foto: Xinhua)
GEBRAK.ID, SAN FRANCISCO – Microsoft kembali melakukan langkah besar dalam restrukturisasi bisnisnya. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu mengumumkan akan memangkas sekitar 4.800 karyawan secara global atau sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerja perusahaan sebagai bagian dari penyesuaian menghadapi perubahan industri teknologi.

Keputusan tersebut diumumkan melalui pesan internal kepada para karyawan pada Senin (7/7/2026). Microsoft menyebut langkah ini merupakan bagian dari upaya menyederhanakan struktur organisasi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di tengah cepatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) ini bukan disebabkan AI menggantikan pekerjaan manusia.

Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, mengatakan bisnis perusahaan saat ini sedang mengalami transformasi yang menuntut perubahan dalam cara organisasi bekerja dan melayani pelanggan.

"Bisnis kami terus berkembang seiring perubahan teknologi dan kebutuhan pelanggan. Karena itu, kami harus menyesuaikan struktur organisasi agar tetap mampu bergerak cepat dan kompetitif," ujar Coleman dalam pesan kepada karyawan.

Menurut Microsoft, PHK kali ini terutama akan berdampak pada divisi penjualan komersial serta unit bisnis gim Xbox. Kedua sektor tersebut menjadi bagian dari restrukturisasi yang bertujuan memperkuat fokus perusahaan terhadap prioritas bisnis jangka panjang.

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada para pekerja yang terdampak, Microsoft memastikan akan memberikan paket pesangon, tunjangan kesehatan, serta layanan pendampingan transisi karier. Perusahaan juga menjelaskan bahwa program pensiun sukarela yang telah diperkenalkan sejak awal tahun membantu mengurangi jumlah karyawan yang harus terkena PHK.

Langkah Microsoft ini terjadi di tengah tren yang sedang berlangsung di industri teknologi global. Sejumlah perusahaan teknologi besar terus menggelontorkan investasi dalam pengembangan AI generatif, infrastruktur komputasi awan (cloud), serta pusat data, sembari melakukan efisiensi biaya di berbagai lini bisnis.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan seperti Microsoft, Google, Meta, hingga Amazon berlomba memperkuat posisi mereka dalam persaingan teknologi AI yang berkembang sangat cepat. Investasi miliaran dolar untuk membangun model AI, chip komputasi, dan layanan cloud mendorong banyak perusahaan menata ulang organisasi agar lebih ramping dan adaptif.

Microsoft menjadi salah satu pemain utama dalam revolusi AI setelah memperluas kerja sama strategis dengan OpenAI dan mengintegrasikan teknologi AI ke berbagai produknya, termasuk Microsoft 365, Windows, Azure, hingga mesin pencari Bing.

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, Microsoft memiliki sekitar 228.000 karyawan penuh waktu di seluruh dunia hingga Juni 2025. Dengan pengurangan sekitar 4.800 pekerja, jumlah PHK kali ini menjadi salah satu restrukturisasi besar yang dilakukan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Meski melakukan efisiensi tenaga kerja, Microsoft menegaskan komitmennya untuk terus berinvestasi pada inovasi, pengembangan AI, serta layanan digital yang menjadi fokus utama pertumbuhan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

(Berbagai Sumber)