GEBRAK.ID -- Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Nevirizal resmi mengundurkan diri dari jabatannya setelah aksi flexing atau pamer gaya hidup mewah yang diduga dilakukan anaknya viral di media sosial.
Keputusan tersebut berlaku efektif mulai Kamis (23/7/2026). Nevirizal menegaskan pengunduran dirinya merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai pejabat publik atas polemik yang berkembang di tengah masyarakat.
"Keputusan ini saya ambil dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab akibat munculnya perhatian publik terkait perilaku anggota keluarga saya yang menimbulkan polemik dan telah memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi tempat saya mengabdi," ujar Nevirizal dalam keterangannya.
Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Gayo Lues itu mengatakan, surat pengunduran dirinya telah diserahkan kepada Wakil Bupati Gayo Lues, H Maliki, karena bupati sedang menjalankan tugas di luar daerah.
Dalam surat tersebut, Nevirizal menyadari bahwa meskipun persoalan yang mencuat merupakan urusan pribadi keluarganya, sebagai pejabat publik ia tetap memiliki tanggung jawab menjaga integritas dan nama baik institusi pemerintahan.
"Demi menjaga nama baik institusi serta memberikan kesempatan agar proses evaluasi dan perbaikan dapat berjalan dengan baik, saya memilih mengundurkan diri dari jabatan yang saya emban saat ini," kata Nevirizal.
Nevirizal juga menyampaikan permohonan maaf kepada pimpinan, rekan kerja, serta seluruh masyarakat Kabupaten Gayo Lues atas kegaduhan yang terjadi akibat polemik tersebut.
Kasus ini bermula setelah akun media sosial milik Dea Arranoya, yang merupakan putri Nevirizal, menjadi sorotan publik. Sejumlah unggahannya memperlihatkan gaya hidup mewah, termasuk perjalanan wisata ke Korea Selatan dan sejumlah negara di Eropa.
Selain itu, salah satu konten yang menuai kritik diunggah pada 9 Desember 2025. Dalam unggahan tersebut terlihat deretan jeriken berisi bahan bakar minyak (BBM) di tengah situasi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
Konten-konten tersebut memicu kritik luas dan dinilai sebagai bentuk flexing yang tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat. Menanggapi polemik tersebut, Dea Arranoya akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat, khususnya warga Gayo Lues.
Dalam surat terbuka tertanggal 22 Juli 2026 yang ditandatangani di atas materai di Banda Aceh, Dea mengakui seluruh unggahan yang menjadi sorotan merupakan kesalahan dan bentuk ketidakdewasaannya dalam menggunakan media sosial.
"Saya mengaku salah dan sama sekali tidak mencari pembenaran atas tindakan yang telah saya lakukan. Unggahan-unggahan tersebut adalah murni kelalaian, ketidakdewasaan, dan kurang bijaksananya saya dalam memanfaatkan media sosial," tulis Dea.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Dea mengaku telah menghapus seluruh konten yang menjadi sorotan dari akun media sosial miliknya.
"Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama dan akan berusaha menjadi pribadi yang lebih rendah hati, bijaksana, dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Saya berharap pintu maaf dapat terbuka untuk kesalahan yang telah saya perbuat," ujar Dea.
Pengunduran diri Nevirizal menjadi perhatian publik karena dilakukan di tengah meningkatnya sorotan terhadap gaya hidup pejabat dan keluarganya, terutama setelah maraknya kasus flexing yang memicu kritik luas di media sosial.
(Berbagai Sumber)
