Pembelajaran di Kelas Kini Lebih Interaktif, Guru Rasakan Dampak Nyata Pelatihan PM-KKA Kemendikdasmen

Tri Oktinawati, guru TKIT SD Insan Madani, mengaku merasakan manfaat Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam peluncuran Pelatihan Mandiri PM-KKA di Jakarta, Kamis (9/7/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA – Proses belajar mengajar di sejumlah sekolah mulai mengalami perubahan setelah para guru mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Melalui pendekatan baru ini, murid tidak lagi hanya menerima materi, tetapi diajak berpikir kritis, berdiskusi, bereksplorasi, dan mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Transformasi tersebut dirasakan langsung oleh para guru yang telah menerapkan hasil pelatihan di ruang kelas. Mereka menilai suasana belajar menjadi lebih hidup, interaktif, dan bermakna bagi peserta didik.

Salah satunya disampaikan Tri Oktinawati, guru TKIT SD Insan Madani. Ia mengatakan pelatihan PM-KKA mengubah cara pandangnya dalam merancang proses pembelajaran, terutama bagi anak usia dini.

Menurut Tri Oktinawati, materi pembelajaran kini tidak hanya berorientasi pada aktivitas di kelas, tetapi juga membangun kemampuan berpikir komputasional sejak dini, seperti dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi. Pendekatan tersebut bahkan dapat diterapkan tanpa ketergantungan pada komputer maupun gawai sehingga membantu mengurangi screen time anak.

"Misalnya saya ingin mengenalkan numerasi kepada anak. Kebetulan tema yang sedang dipelajari adalah bayam. Kalau sebelumnya mereka hanya menghitung daun bayam, sekarang dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam kami menghubungkannya dengan tema yang sedang dipelajari. Kami juga memberikan afirmasi bahwa bayam menyehatkan tubuh dan mengandung zat besi," ujar Tri Oktinawati dalam siaran pers Kemendikdasmen, Jumat (10/7/2026).

Perubahan serupa juga dirasakan Muhammad Jiyad Prawira, guru SD Negeri Batu Ampar 01 Jakarta Timur. Ia menilai metode Pembelajaran Mendalam membuat siswa lebih mudah memahami materi karena dikaitkan dengan lingkungan sekitar dan budaya yang mereka kenal.

"Sekarang anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi memahami kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Saya menghubungkan budaya lokal dengan matematika maupun pelajaran lain sehingga mereka lebih aktif, antusias, dan mudah memahami pelajaran," kata Muhammad Jiyad Prawira.

Kemendikdasmen berharap pengalaman positif tersebut dapat dirasakan lebih banyak guru di seluruh Indonesia melalui Pelatihan Mandiri PM-KKA yang kini dapat diikuti secara lebih fleksibel.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa program pelatihan tahun 2026 merupakan penyempurnaan dari program yang telah berjalan sejak tahun sebelumnya.

"Tahun ini ada tambahan modul. Selain pelatihan secara luring melalui KKG, MGMP, MKKS, dan Hari Belajar Guru, kami juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk mengikuti pelatihan mandiri," ujar Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, usai peluncuran Pelatihan Mandiri PM-KKA di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurut Nunuk Suryani, penyempurnaan dilakukan melalui pendekatan Teacher Experimental Training (TET), yaitu model pelatihan yang menjadikan sekolah sebagai laboratorium pembelajaran. Dalam skema tersebut, guru tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga langsung mempraktikkan metode yang dipelajari di kelas, kemudian melakukan refleksi bersama melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa konsep Pembelajaran Mendalam menempatkan guru sebagai fasilitator yang aktif mendampingi peserta didik selama proses belajar berlangsung.

Menurut Abdul Mu'ti, pendekatan tersebut mengedepankan konsep 3P, yakni Presage, Process, dan Product, sehingga murid didorong untuk aktif berdiskusi, menyampaikan pengalaman, serta membangun keterlibatan dalam proses belajar.

"Guru menjadi fasilitator yang tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Murid dapat menceritakan pengalamannya, saling berdiskusi, dan membangun engagement dalam proses belajar," ujar Abdul Mu'ti.

Abdul Mu'ti menambahkan, pendekatan Pembelajaran Mendalam akan diterapkan pada seluruh mata pelajaran dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing bidang studi. Karena itu, pelatihan diberikan kepada seluruh guru agar implementasinya semakin kontekstual dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

(Sumber: Kemendikdasmen)