Penjualan Mobil Listrik di China Mulai Melambat, Produsen Ramai-Ramai Bidik Ekspor demi Kejar Pertumbuhan

Dominasi China sebagai pasar kendaraan listrik terbesar di dunia mulai menghadapi tantangan baru. (Foto: Pixabay)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID – Dominasi China sebagai pasar kendaraan listrik terbesar di dunia mulai menghadapi tantangan baru. Penjualan mobil listrik di pasar domestik menunjukkan tren penurunan sepanjang 2026, memaksa para produsen mengalihkan fokus ke pasar ekspor untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

Data awal China Passenger Car Association (CPCA) yang dikutip Carscoops pada Selasa (7/7/2026) mencatat penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) dan mobil hibrida plug-in (Plug-in Hybrid Electric Vehicle/PHEV) di China sepanjang Juni 2026 mencapai sekitar 1,04 juta unit.

Angka tersebut turun sekitar tujuh persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menandai perlambatan di pasar yang selama beberapa tahun terakhir menjadi motor utama pertumbuhan industri kendaraan listrik global.

Penurunan juga terlihat pada kinerja semester pertama 2026. Selama Januari hingga Juni, penjualan gabungan BEV dan PHEV hanya mencapai 4,73 juta unit atau turun 13 persen dibandingkan enam bulan pertama 2025.

Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab melemahnya permintaan. Selain kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, perubahan kebijakan pemerintah terkait insentif kendaraan energi baru juga memengaruhi keputusan konsumen untuk membeli mobil listrik.

Banyak calon pembeli memilih menunda transaksi dengan harapan harga kendaraan akan semakin kompetitif dalam beberapa waktu ke depan.

Laporan South China Morning Post menyebutkan pemerintah China mulai menyesuaikan skema subsidi kendaraan listrik sejak awal tahun ini. Beijing juga secara bertahap mengurangi berbagai insentif, termasuk keringanan pajak penjualan yang selama ini menjadi daya tarik bagi konsumen.

Mulai 1 Januari 2027, potongan pajak tahunan untuk kendaraan listrik berbasis baterai, mobil hibrida plug-in, kendaraan hibrida dengan teknologi range extender, hingga kendaraan komersial berbahan bakar sel hidrogen akan dipangkas secara bertahap.

Selama ini, insentif tersebut mampu memberikan penghematan bagi pemilik kendaraan sekitar 360 yuan hingga 660 yuan atau setara kurang lebih Rp950 ribu hingga Rp1,7 juta per tahun.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, hanya sedikit produsen yang masih mampu membukukan keuntungan. BYD, Xiaomi, dan Leapmotor menjadi tiga perusahaan otomotif asal China yang hingga kini tetap mencatatkan kinerja positif.

Sementara itu, lembaga konsultan AlixPartners memperkirakan hanya sekitar empat produsen lain yang berpeluang mencapai titik impas pada 2030. Sisanya diprediksi menghadapi risiko bangkrut atau diakuisisi oleh perusahaan yang memiliki modal lebih kuat.

Situasi tersebut membuat banyak produsen kendaraan listrik China mulai memperluas penetrasi ke pasar internasional. Ekspor dinilai menjadi strategi utama untuk menjaga volume penjualan sekaligus mengimbangi perlambatan permintaan di dalam negeri.

Para analis bahkan memproyeksikan ekspor kendaraan dari China sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar 10 juta unit. Angka tersebut diperkirakan meningkat hingga 41 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mempertegas ambisi produsen otomotif Negeri Tirai Bambu untuk memperkuat posisi di pasar global.

(Sumber: Carscoops)