Riset Doktor UI Tawarkan Model Transformasi PFN, Siap Jadi Motor Penggerak Industri Film Nasional

Widharma Raya Dipodiputro dalam Sidang Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Administrasi dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI), Rabu (17/6/2026) lalu. (Foto: Humas UI)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, DEPOK – Universitas Indonesia (UI) menawarkan konsep transformasi strategis bagi PT Produksi Film Negara (PFN) sebagai upaya memperkuat industri perfilman nasional sekaligus mendorong daya saing sektor ekonomi kreatif Indonesia di tingkat global.

Gagasan tersebut dipaparkan oleh Widharma Raya Dipodiputro dalam Sidang Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia. Melalui risetnya, Widharma mengusulkan model transformasi yang diharapkan mampu membawa PFN keluar dari berbagai persoalan bisnis sekaligus mengembalikan perannya sebagai BUMN strategis di bidang perfilman.

Menurut Widharma, industri film bukan sekadar sektor hiburan, melainkan memiliki fungsi penting sebagai penggerak ekonomi kreatif sekaligus media untuk memperkuat identitas dan ketahanan budaya bangsa.

"Sebagai BUMN perfilman, PFN memikul amanah besar menjadi instrumen negara dalam mendukung ekosistem film nasional," ujar Widharma di Kampus UI Depok, Senin (6/7/2026).

Namun, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kondisi PFN sepanjang periode 2015 hingga 2023 masih menghadapi berbagai tantangan serius. Tingginya beban utang, rendahnya profitabilitas, serta bergesernya fokus bisnis akibat pengelolaan aset yang belum optimal membuat perusahaan berada dalam kondisi kurang sehat.

Situasi tersebut menempatkan PFN pada fase infancy atau tahap awal dalam siklus hidup perusahaan, sehingga memiliki risiko kegagalan organisasi yang relatif tinggi apabila tidak segera dilakukan pembenahan secara menyeluruh.

Meski demikian, Widharma menilai peluang kebangkitan PFN masih terbuka lebar. Berdasarkan analisis lingkungan internal dan eksternal menggunakan metode IFAS-EFAS, PFN masih berada pada kategori grow and build atau tumbuh dan berkembang.

Artinya, perusahaan masih memiliki ruang untuk melakukan ekspansi melalui strategi yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berorientasi pada penguatan bisnis inti.

"Potensi pertumbuhan PFN masih sangat besar apabila transformasi dilakukan secara intensif, selektif, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan," katanya.

Dalam riset tersebut, Widharma menggabungkan dua pendekatan utama, yakni Public Value Management (PVM) dan Dynamic Capabilities (DC), sebagai fondasi transformasi perusahaan.

Melalui pendekatan Public Value Management, keberhasilan PFN tidak hanya diukur dari keuntungan finansial, tetapi juga dari nilai publik yang dihasilkan. Pemerintah dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan regulasi dan kebijakan yang mampu mendukung keberlangsungan industri perfilman nasional.

Dengan demikian, indikator keberhasilan PFN ke depan tidak hanya berupa laba perusahaan, tetapi juga kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan identitas dan ketahanan budaya Indonesia.

Sementara itu, melalui pendekatan Dynamic Capabilities, PFN didorong untuk meningkatkan kemampuan dalam membaca peluang industri (sensing), memanfaatkan peluang tersebut (seizing), serta menata ulang sumber daya perusahaan (reconfiguring) agar lebih adaptif menghadapi perubahan.

Strategi tersebut diwujudkan melalui penguatan intellectual capital, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kolaborasi berbasis hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku industri, komunitas, media, dan masyarakat.

Menurut Widharma, pendekatan ini akan mendorong PFN bertransformasi menjadi lembaga pembiayaan film nasional yang modern, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang.

Widharma menambahkan, model redesain strategi bersaing yang disusunnya dapat menjadi cetak biru bagi transformasi PFN dalam membangun ekosistem perfilman nasional yang lebih kuat, sehat, dan berkelanjutan.

Transformasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru industri perfilman di kawasan Asia, seiring pertumbuhan ekonomi kreatif yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi nasional.

(Sumber: Humas UI)