Riset Ungkap Algoritma Media Sosial Jadi Penentu Cepat Lambatnya Isu Viral di Publik

Perkembangan sebuah isu di media sosial (medsos) ternyata tidak hanya ditentukan oleh banyaknya konten yang dipublikasikan. Algoritma platform digital kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah sebuah informasi akan cepat viral atau justru tenggelam. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA – Perkembangan sebuah isu di media sosial (medsos) ternyata tidak hanya ditentukan oleh banyaknya konten yang dipublikasikan. Algoritma platform digital kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah sebuah informasi akan cepat viral atau justru tenggelam.

Temuan tersebut disampaikan analis media sosial sekaligus Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2), Rustika Herlambang, dalam penelitian doktoralnya yang mengkaji dinamika pembentukan opini publik di era digital.

Menurut Rustika, komunikasi publik saat ini tidak lagi cukup hanya menyampaikan informasi. Pesan juga harus mampu membangun resonansi agar dapat menjangkau perhatian masyarakat di tengah persaingan konten yang sangat padat.

"Komunikasi kebijakan hari ini harus memahami bagaimana perhatian publik bekerja dalam marketplace of attention yang dipengaruhi sekaligus oleh manusia dan algoritma. Membangun resonansi kini menjadi sama pentingnya dengan menyampaikan informasi," kata Rustika dalam keterangan resminya, Rabu (8/7/2026).

Penelitian berjudul Algorithmic Intermedia Agenda-Setting dalam Isu Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN): Analisis Big Data Media Daring, Twitter/X, TikTok, serta Mekanisme Agenda-Building Pemerintah (2020–2024) itu menemukan bahwa algoritma media sosial memiliki peran besar dalam menentukan visibilitas suatu isu.

Menurut Rustika, agenda publik kini terbentuk melalui interaksi antara manusia dan sistem algoritma yang mengatur rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur For You Page di berbagai platform digital.

"Agenda publik tidak lagi dimonopoli oleh satu aktor. Ia terbentuk melalui interaksi antara manusia dan teknologi, termasuk algoritma yang mengatur rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur For You Page," ujarnya.

Konten Sedikit Bisa Lebih Viral

Salah satu temuan menarik dalam riset tersebut adalah banyaknya konten bukan lagi jaminan sebuah isu menjadi perhatian publik.

Sebaliknya, konten yang dipublikasikan dalam jumlah lebih sedikit justru dapat memperoleh jangkauan lebih luas apabila disampaikan pada waktu yang tepat, dikemas sesuai karakter platform, serta mendapat dukungan distribusi algoritma.

Penelitian itu juga menunjukkan perhatian masyarakat terhadap isu-isu pemerintahan, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), cenderung bersifat episodik atau meningkat pada momen-momen tertentu.

Lonjakan percakapan biasanya terjadi saat ada peristiwa penting seperti pengesahan Undang-Undang IKN, dinamika politik menjelang pemilu, perkembangan pembangunan fisik, hingga peringatan Hari Kemerdekaan di kawasan IKN.

Setiap Platform Punya Peran Berbeda

Rustika juga menemukan bahwa setiap media sosial memiliki karakteristik berbeda dalam membentuk persepsi publik.

Media daring berfungsi memperkuat legitimasi melalui pemberitaan dan informasi kebijakan. Sementara Twitter/X menjadi ruang diskusi sekaligus perdebatan publik.

Di sisi lain, TikTok dinilai lebih efektif membangun pengalaman visual dan emosional sehingga informasi lebih mudah dipahami sekaligus dibagikan kepada pengguna lain.

Dari hasil penelitian tersebut, Rustika memperkenalkan model teoretis baru bernama Algorithmic Intermedia Agenda-Setting (AIAS).

Model ini menempatkan algoritma sebagai salah satu aktor penting dalam pembentukan agenda publik di era digital. Menurutnya, isu memiliki peluang lebih besar menjadi perhatian masyarakat apabila lima unsur hadir secara bersamaan, yakni pesan yang kuat, momentum yang tepat, format konten yang sesuai, sentuhan emosi, serta dukungan logika algoritma pada masing-masing platform.

Penelitian tersebut menjadi salah satu kontribusi akademik Rustika setelah meraih gelar doktor dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

(Siaran Pers)