![]() |
| Sindrom "Sleeping Beauty": Saat Luka Batin Membuat Seseorang Sulit Membuka Hati. (Foto: Psychology Today) |
GEBRAK.ID -- Tidak semua orang yang sulit membangun hubungan emosional mengalami masalah dalam mencintai. Bagi sebagian orang, kesulitan membuka hati justru berasal dari luka psikologis yang belum pernah benar-benar pulih.
Menurut Stephen A. Diamond Ph.D. dalam artikelnya di Psychology Today.com, Juli 2026, kondisi ini sering dikaitkan dengan narsisme neurotik, yaitu pola kepribadian yang berkembang akibat pengalaman ditolak, diabaikan, atau kurang mendapatkan penerimaan di masa lalu. Luka tersebut membuat seseorang membangun benteng pertahanan yang begitu kuat hingga tanpa sadar menghalangi kedekatan dengan orang lain.
Kondisi ini dapat dipahami melalui salah satu dongeng paling terkenal di dunia, yaitu Sleeping Beauty atau Putri Tidur.
Narsisme Memiliki Sisi yang Sehat
Selama ini, narsisme identik dengan sifat egois dan haus perhatian. Padahal, dalam psikologi, narsisme juga memiliki bentuk yang sehat.
Setiap orang membutuhkan penghargaan, pengakuan, dan rasa bahwa dirinya berharga. Kebutuhan tersebut membantu seseorang memiliki harga diri yang stabil serta rasa percaya diri yang realistis.
Namun ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi sejak kecil, misalnya karena sering ditolak, diremehkan, atau kurang mendapatkan kasih sayang, seseorang dapat tumbuh dengan rasa aman yang rapuh. Ia menjadi sangat sensitif terhadap kritik dan terus berusaha melindungi dirinya agar tidak kembali mengalami luka yang sama.
Sleeping Beauty Sebagai Metafora Psikologis
Dalam kisah Sleeping Beauty, seorang putri dikutuk oleh penyihir yang marah sehingga tertidur selama seratus tahun. Selama sang putri tertidur, istananya dikelilingi pagar duri yang sangat rapat hingga tidak ada seorang pun yang berhasil masuk.
Secara simbolis, kisah tersebut menggambarkan seseorang yang "tertidur" secara emosional.
Pagar duri melambangkan berbagai mekanisme pertahanan diri yang dibangun setelah mengalami pengalaman menyakitkan. Pertahanan itu memang menjaga seseorang dari kemungkinan terluka kembali, tetapi sekaligus menghalangi orang lain untuk benar-benar mengenalnya.
Akibatnya, hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan menjadi sulit tercipta.
Duri yang Dibangun untuk Melindungi Diri
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam melindungi dirinya dari rasa sakit.
Sebagian menjadi mudah tersinggung. Sebagian lagi bersikap sinis, sulit percaya kepada orang lain, terlalu sensitif terhadap kritik, gemar menyindir, atau cenderung menjaga jarak dalam hubungan.
Perilaku-perilaku tersebut sebenarnya merupakan bentuk perlindungan psikologis.
Layaknya duri pada bunga mawar, mekanisme pertahanan itu menjaga bagian diri yang paling rapuh. Namun, semakin tajam duri tersebut, semakin sulit pula orang lain mendekat dengan tulus.
Pada akhirnya, seseorang memang berhasil menghindari kemungkinan disakiti, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk merasakan kehangatan hubungan yang sehat.
Mengapa Pola Ini Sulit Disadari?
Orang yang hidup dengan luka emosional sering kali merasa penilaiannya terhadap hubungan sudah objektif.
Mereka mungkin berpikir tidak ada orang yang benar-benar peduli, semua hubungan akan berakhir dengan kekecewaan, atau tidak ada yang bisa dipercaya sepenuhnya.
Masalahnya, keyakinan tersebut sering kali terbentuk dari pengalaman lama yang belum selesai diproses.
Tanpa disadari, ketakutan terhadap penolakan membuat seseorang menjaga jarak, menolak bantuan, atau menarik diri ketika hubungan mulai terasa semakin dekat.
Akibatnya, hubungan yang sebenarnya memiliki peluang untuk berkembang justru berakhir lebih dulu karena rasa takut mengambil alih.
Neurosis Seperti Kutukan dari Masa Lalu
Dalam psikologi, neurosis dapat diibaratkan seperti sebuah kutukan yang terus bekerja di balik layar.
Pengalaman menyakitkan di masa lalu masih memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak hingga bertahun-tahun kemudian.
Karena proses tersebut berlangsung di luar kesadaran, seseorang sering merasa dirinya hanya sedang menghadapi nasib buruk dalam hubungan, padahal pola perilakunya sendiri ikut mempertahankan masalah tersebut.
Inilah alasan mengapa psikoterapi tidak hanya berfokus pada mengurangi gejala, tetapi juga membantu seseorang memahami asal-usul pola pertahanan dirinya. Dengan kesadaran tersebut, seseorang memiliki kesempatan untuk membangun cara baru dalam menjalin hubungan.
Keintiman Membutuhkan Keberanian
Pada akhir kisah Sleeping Beauty, seorang pangeran berhasil melewati pagar duri dan membangunkan sang putri tepat ketika kutukan itu berakhir.
Secara simbolis, akhir cerita ini menunjukkan bahwa keintiman hanya dapat terwujud ketika seseorang benar-benar siap membuka dirinya.
Hubungan yang sehat selalu melibatkan keberanian untuk mempercayai orang lain, menerima kemungkinan terluka, dan tetap memilih untuk menjalin kedekatan.
Tidak ada cinta tanpa risiko. Namun tanpa keberanian mengambil risiko tersebut, seseorang akan tetap terjebak di balik benteng pertahanan yang dibangunnya sendiri.
Kesimpulan
Luka emosional dapat membuat seseorang membangun mekanisme pertahanan yang awalnya bertujuan melindungi diri. Sayangnya, pertahanan itu sering berkembang menjadi penghalang bagi hubungan yang sehat dan penuh kepercayaan.
Memahami bahwa sikap defensif, rasa curiga, atau kesulitan membuka hati mungkin berasal dari pengalaman masa lalu merupakan langkah penting menuju perubahan.
Pada akhirnya, membuka hati bukan berarti menghilangkan semua ketakutan. Membuka hati berarti memilih untuk tidak lagi membiarkan luka lama menentukan seluruh arah kehidupan dan hubungan di masa depan. (*)
