![]() |
| Pemerintah sambut baik rencana Singapura bangun PLTS raksasa di Morowali untuk atasi defisit listrik dan dukung industri hilirisasi nikel di Sulawesi. ( Foto: esdm) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara mengenai rencana Singapura membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah. Pemerintah menyambut positif wacana tersebut dan menilai proyek energi terbarukan ini dapat menjadi solusi strategis atas defisit listrik yang melanda wilayah tersebut .
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengakui bahwa Pulau Sulawesi masih menghadapi ketimpangan pasokan listrik. Wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo) memang mengalami surplus, namun kawasan industri di bagian selatan dan tengah, termasuk Morowali, justru masih kekurangan pasokan.
"Bagus lah. Sulawesi itu kan kekurangan listrik. Sulawesi utara yang surplus, Sulutgo. Nah, itu surplus sehingga transmisi ke bawah harus dilakukan. Transmisi ke bawah ini kan Morowali dan seterusnya banyak sekali industri di situ, kurang kan listriknya," ujar Eniya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Selasa (7/7/2026).
Kawasan Industri Butuh Daya Besar
Kebutuhan listrik yang besar di Morowali tidak terlepas dari pesatnya aktivitas industri hilirisasi mineral, khususnya nikel. Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) merupakan salah satu pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia yang berperan penting dalam rantai pasok global industri baterai kendaraan listrik (EV).
Data menunjukkan, hilirisasi nikel telah mendongkrak nilai ekspor produk turunan nikel hingga delapan kali lipat, dari USD4,31 miliar pada 2017 menjadi USD34,44 miliar pada 2023. Kawasan IMIP sendiri saat ini menaungi 53 perusahaan dari berbagai negara dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Morowali yang mencapai 20,34% pada 2023.
Eniya menjelaskan, kehadiran PLTS diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi di kawasan industri, tetapi juga meningkatkan daya saing produk hilirisasi Indonesia di pasar global melalui penggunaan energi bersih.
Proyek Strategis Nasional
Rencana investasi PLTS di Morowali merupakan salah satu tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Singapura terkait pengembangan Kawasan Industri Berkelanjutan atau Sustainable Industrial Zone (SIZ). Pemerintah saat ini tengah melakukan pendalaman untuk menetapkan lokasi tersebut sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan proyek ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi energi kedua negara sekaligus mendukung kebutuhan listrik bagi industri. "Itulah mengapa kami bersama-sama membangun salah satu proyek tenaga surya terbesar di Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah," ujar Wong usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Senin (6/7/2026).
Proyek ini juga terkait dengan rencana perdagangan listrik lintas batas antarnegara. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan berkoordinasi dengan perusahaan energi Singapura seperti Keppel Electric dan Sembcorp Industries dalam penyusunan mekanisme penjualan listrik.
Meski demikian, negosiasi harga jual listrik masih berlangsung. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pembahasan masih berada di tingkat teknis dan belum mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
"Jadi, itu pun baru mengumpulkan industri yang berguna, ya silakan ngumpulin perencanaannya, diserahkan terus sama KESDM," tandas Eniya.
( berbagai sumber)
