Studi Ungkap Gen Z Justru Gandrung Nostalgia, Musik dan Konten Lawas Kian Digemari

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa generasi yang tumbuh di era digital justru memiliki ketertarikan tinggi terhadap musik, film, hingga berbagai konten bernuansa nostalgia. (Foto: Pixabay)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID – Anggapan bahwa Generasi Z (Gen Z) hanya menyukai tren terbaru ternyata tidak sepenuhnya benar. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa generasi yang tumbuh di era digital justru memiliki ketertarikan tinggi terhadap musik, film, hingga berbagai konten bernuansa nostalgia.

Fenomena ini terungkap dalam studi bertajuk Then is Now: A Study on Modern Nostalgia yang dilakukan Vevo, layanan streaming video musik milik Sony Music dan Universal Music Group, Jumat (10/7/2026) ini. Penelitian tersebut melibatkan 1.800 responden dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia yang berasal dari tiga kelompok generasi, yakni Gen X, Milenial, dan Gen Z.

Hasilnya menunjukkan bahwa nostalgia menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pilihan hiburan Gen Z.

Sebanyak 64 persen responden Gen Z mengaku nostalgia memiliki pengaruh besar terhadap konten yang mereka tonton. Bahkan, 88 persen di antaranya menyebut unsur nostalgia mampu membuat pengalaman menikmati musik maupun tayangan menjadi lebih emosional.

Executive Vice President of Global Sales Vevo, Rob Christensen, mengatakan konten baru justru sering menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kembali karya-karya lama.

"Konten baru saat ini justru menjadi pintu masuk agar katalog lama dan konten nostalgia ditemukan kembali, baik oleh penonton baru maupun oleh para penggemar lama," ujar Christensen.

Menurutnya, fenomena tersebut terlihat ketika serial populer seperti Stranger Things menampilkan lagu-lagu lawas. Setelah tayangan dirilis, jumlah pemutaran video musik klasik di platform Vevo ikut mengalami peningkatan signifikan.

Hal serupa juga terjadi saat film maupun serial televisi menggunakan lagu-lagu dari era 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an sebagai soundtrack.

Studi tersebut juga memperkenalkan istilah borrowed nostalgia atau nostalgia pinjaman. Istilah ini menggambarkan kerinduan Gen Z terhadap budaya populer dari masa yang sebenarnya belum pernah mereka alami secara langsung.

Meski lahir di era internet dan layanan streaming, banyak anak muda justru tertarik mengeksplorasi musik, film, hingga gaya hidup dari dekade sebelumnya.

Peneliti menilai kemudahan akses melalui platform digital membuat batas antargenerasi semakin memudar. Kini, generasi muda dapat menikmati karya-karya klasik hanya dalam hitungan detik tanpa harus menunggu tayangan ulang di televisi atau membeli media fisik.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa siklus nostalgia budaya pop kini berlangsung lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu tren nostalgia biasanya muncul setiap 20 hingga 25 tahun, kini perputarannya dipercepat oleh kebiasaan digital Gen Z dan Milenial muda.

Dalam penelitian tersebut, Gen X dikelompokkan pada rentang usia 46 hingga 61 tahun, Milenial berusia 30 hingga 45 tahun, sedangkan Gen Z berada pada usia 14 hingga 29 tahun.

Peneliti menyimpulkan, generasi digital ternyata merindukan pengalaman kolektif yang pernah dinikmati masyarakat sebelum era layanan streaming memungkinkan semua konten diakses kapan saja.

"Kini audiens muda dapat dengan mudah mengakses konten-konten klasik dan membangun ikatan emosional yang kuat dengan momen budaya dari beberapa dekade sebelum mereka lahir," demikian isi laporan studi tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa nostalgia bukan lagi sekadar milik generasi yang pernah mengalami suatu masa, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari pengalaman budaya baru bagi generasi muda melalui musik, film, dan media digital.

(Sumber: Variety)