Zverev Geser Alcaraz dari Posisi Nomor 2 Dunia di Ranking ATP meski Gagal Juara Wimbledon 2026

Alexander Zverev memang gagal mengangkat trofi Wimbledon 2026 setelah dikalahkan petenis nomor satu dunia Jannik Sinner. Namun, hasil sebagai runner-up tetap membawa kabar baik bagi petenis asal Jerman tersebut. (Foto: Wimbledon)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID – Alexander Zverev memang gagal mengangkat trofi Wimbledon 2026 setelah dikalahkan petenis nomor satu dunia Jannik Sinner. Namun, hasil sebagai runner-up tetap membawa kabar baik bagi petenis asal Jerman tersebut.

Berkat pencapaiannya di All England Club, Zverev dipastikan naik ke peringkat kedua dunia ATP dan menggeser Carlos Alcaraz. Kenaikan itu menjadi bukti konsistensi performanya sepanjang musim 2026.

Musim ini menjadi salah satu yang terbaik dalam karier Zverev. Sebelum menembus final Wimbledon untuk pertama kalinya, petenis berusia 29 tahun itu lebih dulu meraih gelar Grand Slam perdana di Roland Garros.

"Pada tahun ini ada perkembangan. Saya pikir saya mampu menekan mereka. Saya memang belum mengalahkan mereka tahun ini, tetapi saya berhasil memaksa mereka bermain hingga batas kemampuan," kata Zverev seperti dikutip dari ATP, Senin (13/7/2026).

Naiknya Zverev ke posisi kedua dunia juga mempertegas persaingan di papan atas tenis putra. Kini, ia menjadi penantang utama dominasi Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz yang dalam dua musim terakhir mendominasi turnamen-turnamen besar.

Sepanjang musim ini, Zverev beberapa kali mampu memberikan perlawanan sengit kepada dua rival utamanya. Ia memaksa Alcaraz bermain hingga lima set pada semifinal Australian Open, sebelum kembali menyulitkan Sinner pada partai final Wimbledon.

"Walaupun berlangsung empat set, saya pikir itu adalah empat set yang sangat ketat dan juga bisa saja berlanjut hingga lima set," ujar Zverev.

Meski gagal membawa pulang trofi, Zverev mengaku puas dengan kualitas pertandingan yang ditampilkan di Centre Court. Menurutnya, duel melawan Sinner berlangsung dalam level permainan yang sangat tinggi.

"Saya merasa kami bermain pada level yang hampir sama dan sangat tinggi. Saya pikir kami berdua tampil luar biasa pada dua set pertama," katanya.

Zverev menilai momen penentu terjadi pada tie-break set kedua ketika ia melakukan kesalahan forehand yang mengubah jalannya pertandingan. "Itu sedikit mengubah jalannya pertandingan. Namun secara keseluruhan saya pikir level pertandingan sangat bagus," ucapnya.

Petenis Jerman tersebut juga mengungkapkan bahwa perubahan gaya bermain menjadi lebih agresif mulai menunjukkan hasil positif. Meski sempat kesulitan beradaptasi di awal musim, ia memilih tetap mempertahankan pendekatan tersebut.

"Itulah tenis yang ingin saya mainkan dan gaya bermain yang ingin saya terapkan. Pada awal musim saya memang sedikit kesulitan dengan gaya ini, tetapi saya terus melakukannya secara konsisten," tegas Zverev.

Selain menjuarai Roland Garros dan mencapai final Wimbledon, Zverev juga berhasil melaju ke semifinal dalam empat dari lima turnamen ATP Masters 1000 yang diikutinya sepanjang musim ini.

"Saya memenangi gelar Grand Slam pertama dalam karier saya di Paris. Saya mencapai final Wimbledon untuk pertama kalinya. Berarti ada sesuatu yang berjalan dengan baik. Memang belum sempurna, tetapi saya yakin kami bergerak ke arah yang benar," kata Zverev.

(Sumber: ATP)