Pengamat Soroti Gaya Teddy Indra Wijaya Bangun Loyalitas, Dinilai Layak Dicontoh Politisi
![]() |
| Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya (tengah). (Foto: BPMI Sekretariat Presiden) |
Editor: A. Rayyan K
GEBRAK.ID, JAKARTA — Cara Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjaga hubungan dengan rekan-rekan seangkatannya mendapat perhatian dari pengamat politik. Pendekatan yang dilakukan Teddy dinilai mampu membangun loyalitas dan jejaring secara elegan tanpa harus mengandalkan manuver politik yang berlebihan.
Analis Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa, menilai langkah Teddy saat menghadiri reuni dan syukuran 15 tahun Akademi TNI-Polri Angkatan 2011 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, menunjukkan strategi membangun hubungan jangka panjang yang patut dicermati.
Menurut Hensa, momen kebersamaan tersebut bukan sekadar ajang reuni, melainkan menjadi cara efektif memperkuat soliditas antarrekan seangkatan.
“Di saat banyak elite politik pusing cari panggung, pasang baliho di mana-mana, dan tebar janji buat cari dukungan, Seskab Teddy justru ngasih masterclass bagaimana cara bangun loyalitas yang sesungguhnya, yaitu mulai dari jaringan yang ia kenal sendiri alias teman angkatannya,” ujar Hensa dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
Pendiri lembaga survei KedaiKOPI itu menilai Teddy memahami pentingnya membangun hubungan yang kuat dengan generasi muda aparat dan birokrasi yang ke depan akan memegang berbagai posisi strategis.
Alih-alih membiarkan setiap individu berjalan sendiri-sendiri, Teddy dinilai justru mendorong semangat kebersamaan agar para rekannya dapat berkembang bersama tanpa dibangun atas dasar kepentingan politik.
Hensa menilai pesan Teddy yang mengajak mereka yang telah berada di posisi lebih tinggi untuk membantu rekan-rekan yang masih berada di bawah merupakan bentuk kepemimpinan yang memperkuat solidaritas.
“Lewat reuni dan pesan ‘yang di atas bantu yang di bawah’, dia sudah mengunci soliditas 2011 lintas matra tanpa perlu transaksi politik apa-apa. Ini orkestrasi persahabatan yang sangat cantik, sekaligus mengamankan kekuatan tanpa terlihat bermanuver,” kata Hensa.
Menurut Hensa, pendekatan komunikasi yang dilakukan Teddy juga lebih efektif dibandingkan pola komunikasi formal yang cenderung mengandalkan kewenangan jabatan.
Hensa menilai hubungan yang dibangun melalui kedekatan emosional dan persahabatan akan menciptakan kepercayaan yang lebih kuat dibandingkan hubungan yang didasarkan pada kekuasaan semata.
“Politisi kita lagi-lagi harusnya belajar dari cara Teddy merawat jaringan, sangat elegan dan tidak murahan. Dia enggak maksa orang tunduk pakai instrumen kekuasaan,” ujarnya.
Hensa berpandangan bahwa di tengah dinamika politik yang semakin kompetitif, kemampuan membangun jejaring yang sehat dan berkelanjutan menjadi salah satu modal penting bagi seorang pemimpin.
Menurut Hensa, pendekatan yang mengedepankan hubungan personal, rasa saling percaya, dan solidaritas akan memberikan dampak yang lebih kuat dibandingkan strategi politik yang hanya berorientasi pada pencitraan sesaat.
(*)

