Perubahan Iklim Ancam 560 Juta Anak, Panas Ekstrem Jadi Ancaman Serius
Perubahan iklim membuat paparan panas ekstrem semakin mengkhawatirkan bagi anak-anak di berbagai belahan dunia. Studi terbaru memperkirakan sekitar 560 juta anak kini menghadapi setidaknya satu bulan tambahan paparan panas berbahaya setiap tahun akibat pemanasan yang dipicu aktivitas manusia. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID — Perubahan iklim membuat paparan panas ekstrem semakin mengkhawatirkan bagi anak-anak di berbagai belahan dunia. Studi terbaru memperkirakan sekitar 560 juta anak kini menghadapi setidaknya satu bulan tambahan paparan panas berbahaya setiap tahun akibat pemanasan yang dipicu aktivitas manusia.
Temuan tersebut disampaikan University of Eastern Finland (UEF) pada Kamis (27/8/2026). Penelitian yang dipimpin Vrije Universiteit Brussel (VUB) itu melibatkan sejumlah peneliti UEF dan telah diterbitkan dalam jurnal Science Advances.
Peneliti menemukan sekitar 43 persen anak berusia 9 tahun ke bawah atau sekitar 560 juta anak mengalami sedikitnya 30 hari tambahan stres panas setiap tahun akibat perubahan iklim.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia lanjut. Studi mencatat sekitar 190 juta orang berusia 60 hingga 69 tahun menghadapi peningkatan paparan panas dengan durasi serupa.
Penelitian secara khusus menyoroti panas lembap. Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya karena tingginya kelembapan udara menghambat kemampuan tubuh untuk menurunkan suhu melalui penguapan keringat.
Anak-anak memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Tubuh mereka dapat mengalami kenaikan suhu lebih cepat dan kemampuan mengatur suhu tubuh belum seefektif orang dewasa.
Paparan panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi hingga sengatan panas. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu proses belajar dan perkembangan kognitif anak.
“Dampak perubahan iklim semakin nyata dan parah. Penelitian kami menunjukkan bahwa anak-anak dan generasi mendatang sangat terpapar dampak ini, dan kerugian yang mereka hadapi akan semakin parah tanpa adanya tindakan,” kata Annalisa Savaresi, profesor di UEF sekaligus salah satu penulis penelitian.
Ancaman paling besar terlihat di kawasan tropis dan negara-negara berpenghasilan rendah. Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat termasuk wilayah dengan jumlah anak yang tinggi dan menghadapi paparan stres panas berbahaya.
Rosa Pietroiusti, penulis utama studi sekaligus peneliti PhD di VUB, mengatakan kelompok anak di negara berkembang menanggung dampak yang tidak sebanding dengan kontribusi mereka terhadap emisi.
“Anak-anak di negara-negara berkembang menghadapi paparan yang tidak proporsional terhadap kondisi iklim ekstrem, baik saat ini maupun di masa depan, meskipun mereka memberikan kontribusi paling kecil terhadap emisi gas rumah kaca di masa lalu,” ujar Rosa.
Para peneliti mendorong negara-negara untuk memangkas emisi bahan bakar fosil secara signifikan guna menekan laju pemanasan global. Mereka juga menyerukan peningkatan pendanaan iklim bagi negara berkembang agar mampu menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin berat.
(Sumber: Xinhua)
